Semarang City tahun 2020
Seorang pria sedang berlari dari satu atap gedung keatap gedung lainnya . Dia terlihat tergesa-gesa . Dia menggenggam sebuah kotak coklat . Dari luar sepertinya itu kotak coklat biasa . Tapi di dalam kotak itu , isinya adalah ganja .
“Max , Tunggu...!” Panggil seseorang dari belakang .
Pria yang dipanggil Max tadi berhenti . Kemudian menoleh ke belakang . Seorang pria yang tadi memenggilnya berlari menuju ke arahnya . Nafasnya tersengal-sengal .
“Gawat ! Agen Rahasia sudah tahu gerak-gerik kita . Mereka sekarang
sedang mengejar kita . Mereka juga membawa polisi .”Kata Orang
Itu .
“Kalau begitu , ayo kita lari lagi . Jangan sampai mereka menangkap
kita . Bungkusan ini harus sampai ke Dr . Black .”Kata Orang yang
dipanggil Max .
“What ?! Tidak , Max . Kita lebih baik sembunyi . Aku capek...Max...
Tunggu...!”Teriak Orang itu .
Max berlari duluan . Sedangkan orang tadi mengejarnya belakangan . Sementara itu , dua orang agen rahasia mengejar mereka . Orang tadi berusaha berlari lebih cepat . Namun sayang , dia sudah tidak kuat lagi . Tenaganya sudah habis . Dan akhirnya , dia terjatuh .
“Max....! Tidak....!”Teriak Orang itu .
“Tertangkap kau sekarang .”Kata salah seorang agen rahasia .
“Kapten , biar saya saja yang mengurusnya .”Kata salah seorang polisi .
“Aoyama ! Ada satu orang lagi yang lari . Ayo kita kejar .”Kata Agen
satunya lagi .
Orang yang dipanggil Aoyama hanya mengangguk . Kemudian dia berlari bersama partnernya . Mengejar orang yang bernama Max tadi . Sementara itu , Max sudah berada jauh dari kedua agen rahasia yang sedang mengejarnya . Dia menengok kebelakang . Dan dia tidak melihat seorang pun berada di belakangnya . Dia akhirnya berhenti .
“Hmm...Sepertinya sudah aman .”Gumamnya .
“Tunggu !” Teriak Aoyama .
“What?! Sialan !”Teriak Max .
Max melihat dua orang agen rahasia yang sedang mengejarnya . Mereka berdua semakin mendekat kearahnya . Tapi Max hanya diam saja . Dia mengamati kedua orang itu dengan seksama . Otak komputernya mulai bekerja menganalisa kedua orang itu .
“Satu manusia dan satu bionik . Huh ! Kupikir mereka Cyborg .”
Kata Max .
Tiba-tiba Max menginjak sepatu kirinya . Setelah dia menginjaknya , muncul sayap dari besi di punggungnya . Ketika kedua agen itu mendekat , dia pun langsung terbang dengan sayap besinya .
“Bye...”Kata ax sambil tersenyum sinis .
“Tidak...!Sialan !” Umpat Aoyama .
“Dia lolos lagi ?”Tanya partner Aoyama .
“Yah , seperti yang kau lihat Rose .”Jawab Aoyama.
“Sudahlah , mungkin ini bukan keberuntungan kita .”Kata orang yang
dipanggil Rose . “Nah , ayo kita kembali ke markas .”
* * *
Max mendarat di depan rumah mewah . Dia menengok ke kanan dan ke kanan . Dia sekitar rumah itu tidak ada orang lain selain dia .
“Aman .”Kata Max .
Kemudian dia cepat-cepat masuk kedalam rumah itu . Ketika dia masuk , dia disambut oleh orang yang berbaju serba hitam . Orang itu tersenyum pada Max .
“Dimana Aresh ? dan mana ganja pesananku ?”Tanya orang itu .
“Aresh ditangkap polisi . Dan ini ganja pesananmu .Tugasku
sudah selesai . Sekarang kembalikan adikku .”Kata Max
“Tidak bisa .”Kata orang itu .
“Apa ?! Kau mau mengulur waktu lagi . Sesuai perjanjian , kau bilang
akan mengembalikan adikku tanggal 25 maret . Hari ini .”Kata Max .
“Benarkah ? Tapi menurutku tanggal 25 Desember aku baru mau
mengembalikan adikmu .”Kata orang itu .
“Kau....!”Kata Max .
“Hohoho...Baiklah . Aku akan mengembalikan adikmu sekarang .”Kata
orang itu .
Orang itu kemudian menekan tombol yang ada di meja kerjanya . setelah menekan tombol itu , dia mundur tiga langkah . Tiba-tiba lantai yang ada di depan mejanya terbuka . Dan keluarlah sebuah tabung besar . Didalam tabung itu , ada seorang pria yang dibekukan secara kyrogenik.
“Al...”Kata Max .
“Adikmu akan kukembalikan . Tapi sebelumnya , aku akan...
Menyiksanya terlebih dahulu .”Kata orang itu .
“Tidak ! Jangan , Dr. Black !”Teriak Max .
Orang yang dipanggil Dr. Black itu tidak memperdulikan teriakan Max . Dia kemudian menekan tombol warna merah yang ada di dekat tabung besar itu . Pria yang ada di dalam tabung tadi membuka matanya perlahan-lahan .
“Kakak....”Panggil pria itu .
“Al !”Teriak Max .
Tiba-tiba Dr. Black menekan tombol warna biru .Seketika itu juga , muncul kilatan di dalam tabung . Kilat itu menyambar adik Max alias Al . Al pun berteriak kesakitan .
“Arrgh...!”Teriak Al .
“Tidak...! Dr. Black hentikan !”Kata Max .
“Kau tadi bilang kan . Kau mau adikmu kembali . sekarang akan
kukembalikan dia . Jika dia sudah menjadi mayat . Haha...”Tawa
Dr. Black .
“Tidak ! Hentikan ! Baiklah...Aku mau bekerja untukmu lagi .”Kata
Max .
Dr.Black berhenti menekan tombol Biru . Dia pun tersenyum puas . Kemudian dia menekan tombol yang ada di meja kerjanya lagi . Tabung besar itu masuk kembali ke bawah . Dan lantai yang ada di dekat meja kerja Dr. Black kembali seperti semula .
“Bagus...Kau memang Cyborg yang pintar .”Kata Dr. Black .
* * *
Di kantor polisi
“Kapten Aoyama , akhir-akhir ini penyebaran ganja makin meningkat .
Padahal kau dan orang-orangmu sudah menangkap beberapa orang
Yang terkait dengan penyebaran ganja . Tapi...”Kata Pak Randi .
“Tapi kita belum berhasil menangkap kurir utamanya .”Kata Kapten
Aoyama .
“Maksud anda ?”Tanya Pak Randi .
“Begini pak , dari sekian kurir ganja yang kita tangkap ada satu yang
belum kita tangkap . Dan menurut analisa saya , dialah kurir utamanya.
Tapi masalahnya dia adalah Cyborg . Jadi kami agak sulit
Menangkapnya .”Kata Kapten Aoyama .
“Itu urusanmu , Kapten . Yang jelas kami , pihak kepolisian Indonesia
sudah membiayai agenmu jutaan rupiah untuk memberantas
ganja , narkoba , atau sejenisnya . Huff! Dasar agen murahan .”
Kata Pak Randi .
“Brak !”
“Kami bukan agen murahan ! Orang-orang kami sudah terlatih
dengan baik .”Kata Kapten Aoyama .
“Buktikan kalau kalian bukan agen murahan . Dengan menangkap
kurir utama itu . meskipun dia Cyborg . Bagaimanapun caranya .
Kalau kalian tidak bisa menangkapnya , pihak kepolisian akan
mengganti kalian dengan agen rahasia lainnya .”Kata Pak Randi .
* * *
Kapten Aoyama keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai . Partnernya , Rose dan Reza segera menghampirinya .
“Aoyama , apa yang terjadi?”Tanya Reza .
“Nanti aku ceritakan di markas saja .”Jawab Aoyama.
Aoyama , Reza , dan Rose segera masuk ke Flying car . Mereka kemudian pergi menuju ke markas . Kali ini Reza yang menyetir . Sedangkan Aoyama duduk disampingnya . Dan seperti biasa , Rose duduk di belakang . Suasana pun menjadi hening . Reza yang biasanya cerewet pun kali ini terdiam . Dia tidak bisa cerewet jika melihat Aoyama sahabatnya itu sedang bersedih .
Reza menyalakan tape-nya untuk menghibur Aoyama . Tapi Aoyama tetap saja murung . Sesekali Rose menirukan lagu yang terdengar dari tape . Dia mencoba meramaikan suasana .
“Rose , bisakah kau diam . Jangan menyanyi disini . Suaramu Jelek .”
Ejek Reza .
“Hei , aku dulu guru playgroup . Aku sudah biasa menyanyikan lagu
untuk anak-anak . Dan nyatanya , mereka tidak protes waktu aku
menyanyi . Tidak seperti kau .”Balas Rose .
Reza hanya diam saja . Dia kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Rose .
* * *
Flying car yang ditumpangi Rose , Aoyama , dan Reza mendarat di depan rumah mewah milik mereka . Atau mereka sering menyebutnya markas rahasia . Rose , Aoyama , dan Reza pun turun dari Flying Car . Begitu mereka turun Joe , robot humanoid pelayan mereka menyambutnya .
“Selamat datang...Eh...Apa aku salah menyambut kalian ?”Tanya Joe.
“Tidak kok , Joe . Yeah , mungkin lebih baik kau siapkan sebotol Wine
untuk kami .”Kata Reza .
“Baik, tuan Reza .”Kata Joe .
Joe masuk ke dalam rumah dengan cepat . Dia kemudian menyiapkan tiga buah gelas dan sebotol Wine . Dan embawa itu semua dengan nampan menuju ke ruang tamu . Sampai di ruang tamu , Joe meletakkan itu semua di atas
“Terima kasih , Joe . Oh ya . Kau boleh ikut duduk disini .”Kata Reza .
“Benarkah ? Sungguh menjadi kehormatan bagiku bisa menemani
majikanku .”Kata Joe .
" Aoyama apa yang terjadi?" Tanya Rose sambil menuangkan wine ke
gelasnya dan gelas Aoyama.
Aoyama menatap Rose dengan pandangan yang aneh . kemudian Aoyama pun bercerita tentang apa yang terjadi sewaktu di kantor polisi . Selesai bercerita , dia pun kembali lesu . Reza yang mendengar cerita Aoyama menjadi emosi .
“Aku tidak terima kalau kita dibilang agen murahan !” Kata Reza . “Ayo
kita buktikan pada para polisi itu kalau kita bukan agen rahasia
murahan.”Lanjut Reza .
“Tenanglah ,Reza .”Kata Rose .
“Aku tidak bisa tenang , Rose . Ayo kita kumpulkan teman-teman kita .
dan kita tangkap cyborg sialan itu .”Kata Reza .”Rose, panggil yang
lainnya .”
“Ta...Tapi...Teman-teman kita berada di luar negeri semua . Megumi
kembali ke Jepang .Ronald masih di Inggris . Dan Albert sedang
menyelesaikan kasus di philipina .”Kata Rose .
Tiba-tiba Aoyama berdiri . Dia kemudian berjalan menuju ke kolam renang yang ada di belakang markas . Rose , Reza , dan Joe mengikutinya . Aoyama menatap kolam renang itu dengan tatapan yang kosong .
“May be I must back to Japan . And become a farmer . like my father .”
Kata Aoyama .
“Hey , guy . Don’t be like that . You’re not a losser .”Kata Reza .
“Honey , if you back to Japan .It mean I must back to America and
become playgroup teacher again . And...”Kata Rose .
“Stop ! Hey , guys . We’re not losser , okay . Kita bisa pakai cara
apapun untuk menangkapnya .”Kata Reza .
Ketika Reza berkata seperti itu , Aoyama jadi teringat dengan kata-kata Pak Randi . “Bagaimanapun caranya . kalian harus menangkap Cyborg itu .” Kata-kata itulah yang terus terngiang di telinga Aoyama . Mendadak dia mendapatkan ide . Wajahnya pun kembali ceria .
“Kau benar , Reza . We’re not losser . kita bisa pakai berbagai cara
untuk menangkapnya.”Kata Aoyama . “Ayo kita minum wine .”
Lanjutnya .
Rose dan Rza pun terbengong-bengong melihat perubahan sikap Aoyama . Sementara itu , Aoyama kembali ke ruang tamu . Dia menuangkan wine ke dalam gelasnya . Diam-diam dia menaruh obat tidur ke dalam gelas wine milik Rose . Kemudian dia kembali ke kolam renang .
“Rose , ini .”Kata Aoyama .
“Hei , curang . Kau tidak mengembilkan wine untukku .”Protes Reza .
“Ambil saja sendiri .”Kata Aoyama .
“Dasar !”Kata Reza .
Dengan memasang wajah sebel dia pergi ke ruang tamu . Untuk menganbil wine-nya .
“Ini untukmu, Rose .”Kata Aoyama .
“Ah , ya . Thank’s....”Kata Rose .
Rose meminum wine pemberian Aoyama . setelah meminumnya , tiba-tiba dia merasakan sakit kepala yang hebat . Rose tidak kuat lagi menahannya . Kemudian dia terjatuh . Aoyama pun menahannya .
“Aoyama...apa maksudnya....”Kata Rose .
“Hei , Aoyama . Aku...Rose...Hey , kenapa dia ?”Tanya Reza .
“Ayo kita ke Lab-mu .”Kata Aoyama .
“He?Maksudmu? Aoyama , tunggu!” Kata Reza .
* * *
Aoyama membawa Rose yang tertidur menuju ke Lab milik Reza . Sedangkan Reza mengikutinya dari belakang . Kemudian Aoyama meletakkan Rose di meja percobaan .
“Ubah dia menjadi bionik . Ganti kakinya denan kaki bionik . Supaya
dia bisa berlari lebih cepat .”Kata Aoyama , tiba-tiba .
“Kau...Kau mau mengorbankan kekasihmu sendiri menjadi bionik .
Orang macam apa kau ini...”Kata Reza .
Tiba-tiba Aoyama mengeluarkan senjata laser dari balik jaketnya . Reza pun tak berkutik ketika senjata laser itu ditodongkan ke kepalanya .
“Lakukan saja...Atau kau mau merasakan senjata ini meledakkan
kepalamu .”Kata Aoyama.
“Ba...Baiklah .”Kata Reza .
Reza kemudian memakia jas Lab-nya . Tidak lupa juga dia menyiapkan peralatannya . setelah itu , dia mulai membuat Rose menjadi bionik . Meskipun dalam hatinya dia tidak mau membuat Rose menjadi bionik .
* * *
“Uh....Dimana ini....Ini kan Lab-nya Rza . Kenapa aku bisa ada disini ?”
Tanya Rose . “Reza...Aoyama...” Lajutnya .
“Rose...maafkan aku....”Kata Reza .
“Biar aku yang menjelaskannya . Rose , kami sengaja mengubah kakimu
menjadi bionik . Supaya kau bisa berlari lebih cepat sehingga kita bisa
menangkap Cyborg itu dan....”Kata Aoyama .
“Plak !!” Tiba-tiba Rose menampar Aoyama . Reza yang melihat itu
hanya bisa diam .
“Jadi , kau memasukkan obat tidur ke alam wine-ku . Dan akhirnya aku
tertidur . Lalu kau menyuruh Reza untuk membuatku menjadi bionik .
Dengan alasan agar kita bia menangkap Cyborg itu . Aoyama...I hate
You !!” Bentak Rose .
Kemudian Rose berjalan menuju ke mesin teleport . Dia menyalakan mesin itu . Aoyama erusah mencegahnya . Tapi sayang , Rose keburu pergi dengan mesin teleport itu .
“Apa yang sudah kulakukan....”Kata Aoyama Lirih .
* * *
Rose tiba-tiba muncul dari mesin teleport yang ada di rumahnya . Erlina , robot humanoid pelayannya terkejut ketika melihatnya . Dia tampak senang melihat majikannya pulang . Tapi raut wajah Erlina berubah ketika melihat majikannya menangis . Tiba-tiba Rose memeluk Erlina .
“Ada apa nona ?” Tanya Erlina .
“Aoyama...Dia...”Jawab Rose, sesenggukan .
Akhirnya Rose bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya . Setelah bercerita , dia pun terus menangis .Erlina berusaha menenangkan majikannya .
“Sudahlah, nona . Mungkin lebih baik aku buatkan teh untuk nona
Rose.”Kata Erlina .
* * *
3 hari setelah peristiwa itu
Rose dan Erlina sibuk menanam bunga di halaman belakang . Dia sudah tidak bekerja menjadi agen rahasia lagi . Dan dia juga berusaha melupakan Aoyama . Tidak hanya itu . Rose juga berusaha menjadi manusia biasa meskipun sebenarnya dia adalah bionik .
“Ah...Erlina . Aku capek . Hari ini cukup segini dulu . Besok dilanjutkan
lagi . Aku mau tidur sebentar .”Kata Rose .
“Baik , nona .” Kata Erlina .
Rose kemudian berjalan menuju ke kamarnya . Begitu sampai di kamarnya , dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur . Lalu dia tertidur karena kecapekan .
* * *
“Dimana Aku ?”Tanya Rose .
“Rose...Kemarilah...”Panggil seseorang .
“Kau...Kau kan Cyborg itu . Tidak ! Ini pasti jebakan .”Kata Rose
“Kemarilah Rose...”
Cyborg itu semakin mendekat kearah Rose . Rose mundur , mencoba menjauhinya . Wajahnya terlihat ketakutan . Dia sebenarnya ingin berlari . Tapi tak bisa .
“Rose...Tolong aku...Aku butuh bantuanmu ....”
* * *
“TIDAK....!!Pergi ! jangan...ganggu...a...”Kata Rose .
“Ada apa nona ?” Tanya Erlina .
“Mimpi itu ...Cyborg itu lagi...Erlina...Dia menghantuiku .”Kata Rose .
“Tenanglah,nona . Itu Cuma mimpi buruk .”Kata Erlina
“Aku tidak bisa tenang .Sepertinya ini bukan mimpi biasa.Erlina....bisa
tolong ambilkan HP-ku .”Pinta Rose.
“Ah , ya . baik nona .”Kata Erlina . kemudian dengan cepat dia
mengambil HP milik Rose .
“ini nona .”Kata Erlina .
“Thank’s.”Kata Rose .
Rose buru-buru menekan nomor HP Reza . Kemudian menelponnya .
“Halo , Reza .” Kata Rose .
“Eh , ya . Ini siapa ?”
“Ini aku . Rose .”Kata Rose .
“Rose ? benarkah itu kau ? Ahoy ! kupikir kau sudah...”Kata Reza .
“Mati ? Huh! Dasar! Dengar , Reza . Sampaikan ini pada Aoyama .
Aku mau bergabung dengan kalian lagi .”Kata Rose .
“Wow! Aoyama pasti kaget mendengar ini . Ya kan Rose...Halo...”
Kata Reza .
Rose tidak berkata apapun . Dia langsung mematikan HP-nya . Kemudian dia menuju ke kamar mandi . Setelah itu , Rose bersiap-siap menuju ke markas .
* * *
Di markas rahasia .
“Mana Aoyama ?”Tanya Rose .
“Dia...Ada didekat kolam renang .” Jawab Reza .
Rose berjalan dengan cepat menuju ke kolam renang . Dan melihat ada Aoyama disitu . Lalu Rose menghampiri Aoyama .
“Aoyama...”Panggil Rose .
“Eh , Rose...Ng...Maafkan aku soal...”Kata Aoyama .
“Tidak perlu membahas soal itu agi . Aku punya rencana bagus untuk
menangkap Cyborg itu .”Kata Rose .
“Kau...Serius Rose ?”Tanya Aoyama .
“Aku serius ! Ayo cepat . Ajak Reza juga . Aku tahu dimana dia
berada .” Kata Rose .
“Ba...Bagaimana...”Kata Aoyama .
“Aku menambahkan fungsi radar dalam tubuhnya ketika kau
menyuruhku untuk membuatnya mejadi bionik . Jadi dia bisa tahu
keberadaan seseorang hanya dengan mengingat wajahnya .”Kata Reza .
* * *
Rose , Aoyama dan Reza segera masuk kedalam flying car mereka . Kali ini Aoyama yang menyetir . Dan tidak seperti biasanya , Rose berada di samping Aoyama . Sedangkan Reza duduk di belakang .
“Di mana dia Rose ?” Tanya Aoyama .
“Di jalan Ve la Rie gang pertama .”Jawab Rose .
Aoyama menyalakan mesing Flying carnya . Kemudian dia langsung tancap gas .
* * *
Sementara itu , di jalan Ve La Rie gang pertama . Max seperti biasa mengantarkan paket ganja untuk Dr. Black . Dia berjalan seperti manusia biasa . Tapi gerakannya agak kaku . Tiba-tiba .....
“Hei , Kau !”
Max menoleh ke belakang . Dan dia melihat ada seseorang mengejarnya. Max mengamatinya dengan seksama .
“Hmm...Dia agen rahasia yang dulu mengejarku . Tapi aneh . Dulu dia
kan manusia biasa . Kenapa sekarang dia menjadi bionik .”Gumam
Max .
Orang itu semakin mendekat ke arah Max . Melihat itu , Max langsung berlari . Max berpikir kalau agen rahasia itu tidak akan bisa mengejarnya . Tapi ternyata dugaannya salah . Agen rahasia itu bisa mengejarnya meskipun Max sudah berlari dengan kecepatan tinggi .
“Sialan !”Umpat Max .
“Tunggu ! Berhenti ! Aku ingin bicara denganmu .”Kata Agen rahasia
itu .
Tapi Max tidak percaya . Dia mengira kalau itu adalah jebakan . Dan dia terus berlari . Di tengah pelarian itu dia teringat dengan adiknya .
“Sepertinya percuma aku berlari terus seperti ini . Walaupun aku lolos ,
aku akan tetap bekerja pada Dr. Black . Dan tidak tahukapan kepastian
Al akan dilepaskannya . Tapi bila aku bekerjasama dengan agen
Rahasia itu mungkin Al bisa dibebaskan secepatnya . Ya , berarti aku
Harus bekerjasama dengannya .” Gumam Max .
Tiba-tiba Max berhenti begitu saja . Agen rahsia yang tadi mengejarnya , kemudian mendekatinya . Mereka berdua berhenti tepat di tempat rongsokan besi-besi bekas . Max pun membalikkan badannya . Kini dia berhadapan dengan sang agen rahasia .
“Aku...”Kata Agen rahasia itu .
“Aku ingin bicara denganu . Bisakah kau menolongku ?”Tanya Max .
“I...Iya . Tentu bisa . Tapi semampuku ...”Kata Agen rahasia itu .
Agen rahasia itu memperkenalkan dirinya pada Max . Max sepertinya tidak begitu peduli soal itu .
“Namaku Rose . Dan kau...?”Tanya Agen rahasia itu .
“Max .”Jawab Max singkat tanpa senyum sedikitpun .
“Oh ya . Lalu kenapa kau minta tolong padaku ?”Tanya Rose .
Max hanya diam saja .Kemudian dia berjalan ke suatu tempat .
“Kemarilah...Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu .”Kata Max .
* * *
Reza dan Aoyama geliah menunggu Rose yang pergi entah kemana . Bersama Cybog yang bernama Max .
“Rose ngapain sih . Pakai kenalan segala . Memangnya dia pikir ini
acara Mak Comblang apa . Ah...Dasar ! Apalagi yang dia ajak kenalan
Cyborg lagi . Hu-uh!” Kata Reza .
“Reza ! Biakah kau mengunci mulutu itu . Tenanglah...Kita tunggu
reaksinya . Kalau Rose tidak kembali , baru kita menyusulnya .”Kata
Aoyama .
* * *
Rose mengikuti kemana perginya Max . Mereka berdua erus berlari . Dan akhirnya mereka sampai disebuah bangunan . Bangunan yang bisa disebut gubuk itu , terletak di tengah-tengah kumpulan besi yang tidak terpakai . Max mendekati alat pengaman yang terletak di sebelah kiri pintu .
“Pemeriksaan retina selesai . Identias diketahui . Max dengan kode
Cyborg . Diterima . Silahkan masuk .”Terdengar suara dari alat
pengaman itu .
Tiba-tiba pinu gubuk itu terbuka . Di dalamnya hanya ada satu ruangan yang sempit . Di rungan itu , Rose melihat seorang pia yang dibekukan secara kyrogenik di dalam sebuah tabung besar .
“Max...Si...Siapa dia ?”Tanya Rose .
“Dia adikku , Al . Dr. Black yang membekukannya . Dia berjanji padaku
untuk membebaskan Al , asalkan aku mau bekerja padanya . menjadi
kurir ganja .Aku pun menurutinya . Dan berharap Al bisa dibebaskan
secepatnya .Tapi...”kata Max .
“Buk !!”
Max memukul tabung besar itu . Rose pun jadi bingung melihatnya .
“Dia mengingkari janjinya .”Kata Max .
“Kalau begitu , lebih baik kau berhenti saja menjadi kurirnya .”Kata
Rose .
“Tidak bisa ! Dia akan membunuh Al jika aku berhenti bekerja Padanya .”Kata Max .
Max kemudian menatap Rose . Dari tatapannya terlihat bahwa dia sangat berharap pada Rose .
“Rose , tolonglah aku...Terserah kau mau menangkapku lalu mematikan
siatemku . kemudian membuangku ke tempat ini . Terserah ! yang
penting Al bisa bebas .”Kata Max .
Rose agak bingung menjawabnya . Dia berpikir apa yang harus dilakukannya .
“Hmm...Begini saja . Kita susun strategi dulu untuk menangkap
Dr.Black . Baru setelah itu , kita akan berusaha membebaskan Al.”
Kata Rose .
* * *
Reza terlihat gelisah terus-menerus . Katika dia melihat Rose membawa Cyborg incaran mereka . Aoyama melihat Rose dengan tegang . Rose membuka pintu belakang . Lalu dia menyuruh Reza untuk duduk di dekat Aoyama . Reza pun menurutinya . Setelah Reza pindah , barulah dia dan Max masuk ke dalam Flying car .
Ketika Rose dan Max masuk , Reza dan Aoyama hanya diam seperti patung .
“Hei ! Kenapa kalian malah jadi seperti patung ?”Tanya Rose .
“Wow! Rose...Kau hebat . Kau bisa menangkapnya sekaligus
menjadikannya selingkuhanmu.”Kata Reza .
“REZA!!! Kau mau mulutmu dijahit . Berhentilah jadi tukang gosip .”
Kata Aoyama .
“Hey , tenanglah . Dengar . Aku punya satu rencana lagi .”Kata Rose .
“Coba aku tebak . Kau pasti mau berkencan dengan Cyborg ini .”Kata
Reza .
“Reza!!”Teriak Aoyama dan Rose .
“Baiklah...Jadi , apa rencanamu?”Tanya Reza .
* * *
“Hahaha....Uang...!Uang...!Uang hasil penjualan ganja kali ini lebih
banyak . Ternyata tidak sis-sia juga aku merubah Max menjadi Cyborg .
Sehingga aku masih bisa menjual ganja . Meskipun kurir-ku lainnya
Sudah ditangkap .”Kata Dr.Black .
Tiba-tiba pintu rumah Dr.Black terbuka . Lalu muncullah Max . Dr.Black tersenyum ketika melihat Max datang .
“Ah , kebetulan Max . Kutunggu dari tadi . Seperti biasa . Antarkan
bungkusan ini .”Kata Dr.Black .
“Maaf , Dr.Black . Sekarang aku sudah tidak bekerja lagi untukmu .”
Max .
“Kau mau main-main denganku lagi .”Kata Dr.Black .
“Yah , begitulah . Tapi aku tidak akan bermain sendirian lagi .”Kata
Max .
“Apa Maksudmu !”Bentak Dr.Black .
Dari belakang Max muncul Rose , Reza , dan Aoyama . Dr.Black pun terkejut melihatnya . Dia berjalan mundur . Tiba-tiba dari arah belakang , muncul sepuluh orang polisi . . Dan para polisi itu langsung menangkap Dr.Black . Dr.Black memberontak . Berusaha melarikan diri . Tapi usahanya sia-sia .
“Max ! Kau pengkhianat !”Bentak Dr.Black .
“Aku bukan pengkhianat . Tapi kau yang pengkhianat .”Kata Max
sambil tersenyum sinis .
* * *
Setelah peristiwa itu , Dr.Black dijatuhi hukuman mati . Sedangkan Max hanya dipenjara selama satu tahun . Kepala Kapolsek Semarang City alias Pak Randi pun senang dengan hasil kerja agen rahasia milik Aoyama .
Sementara itu , Aoyama dan temannya mengadakan pesta kecil-kecilan . Untuk merayakan keberhasilan mereka . Di pesta itu , Erlina pun juga ikut.
“Haha...Ayo tambah lagi wine-nya , Joe .”Kata Reza .
“Ta...Tapi...Tuan sudah mabuk .”Kata Joe .
“Tidak apa-apa . Ayo tambah lagi...!”Teriak Reza .
Aoyama yang melihat itu tertawa sekeras mungkin . Sampai-sampai gelas berisi wine di tangannya hampir jatuh . Tapi Rose sepertinya tidak tertarik dengan hal itu . Kemudian dia pergi ke balkon . Diam-diam Aoyama mengikutinya .
“Rose...”Panggil Aoyama .
“Ya .”Jawab Rose .
“Maafkan aku soal...Waktu itu . Aku sebenarnya tidak mau membuatmu
bionik ...Aku...”Kata Aoyama .
“Lupakan soal itu .”Kata Rose .
Sesaat Rose dan Aoyama terdiam . Mereka saling menatap . kemudian Rose menatap langit yang sedang cerah saat itu .
“Aoyama , aku...Masih heran . Kenapa Max ingin sekali membebaskan adiknya . Padahal kau tahu kan . Cyborg itu kan tidak punya perasaan.”
Kata Rose .
“Hmm...Aku sendiri pun juga tidak tahu . Hal ini masih menjadi misteri
bagi semua orang . Bahkan Ilmuwan sekalipun .”Kata Aoyama .
“Mungkin sewaktu dia masih hidup , perasaan cintanya pada adiknya
sangat besar . Sehingga perasaan itu masih melekat meskipun dia sudah
menjadi Cyborg .”Kata Rose .
“Hmm...Rose . Soal cinta...Aku jadi teringat dengan...Mu . Rose...
Aishiteiru . Meskipun kau adalah bionik bahkan Cyborg sekalipun .
Aku tetap mencintaimu .”Kata Aoyama .
“I love u too...”Kata Rose .
Rose dan Aoyama pun akhirnya saling berpelukan . Di balkon markas mereka . Dan tepat di bawah cerahnya langit sore saat itu .
* * *
Hari ini , Rose dan Aoyama pergi ke penjara C-12 . Penjara khusus Cyborg . Mereka berniat menjenguk Max .
“Halo , Rhea . Bisakah kami bertemu dengan Max ?”Tanya Aoyama .
“Tentu kapten Aoyama . Silahkan masuk . Kebetulan , Max baru saja
selesai mengisi baterainya .”Jawab Rhea .
“Rhea , jangan kaku seperti itu . Cobalah untuk tersenyum . Sebentar
saja...”Kata Aoyama .
“Aku sebenarnya ingin tersenyum . Tapi kode etik penjaga penjara
adalah dilarang tersenyum . Jadi aku tidak bisa .”Kata Rhea .
Max tiba-tiba muncul dari belakang Rhea . Rhea pun kaget . Max kemudian menyapa dua agen rahasia itu . Dan mengajak mereka duduk di tempat yang telah disediakan . Max berterima kasih pada Rose dan Aoyama .Karena berkat mereka berdualah , Al bisa bebas . Kini Al berada di tempat rehabilisasi khusus orang-orang yang dulunya pernah di bekukan secara kyrogenik . Al berada di tempat itu untuk memulihkan kondisinya kembali . Karena dia sudah dibekukan selama tiga tahun oleh Dr.Black .
“Rhea tiba-tiba memperingatkan Aoyama dan Rose . Bahwa waktu berkunjung sudah habis . Aoyama dan Rose bangkit dari tempat duduk mereka . kemudian mereka pulang .
“Oh ya . Aku lupa . Bye Max ...”Kata Rose .
“Bye...”Kata Max sambil tersenyum . Tapi kali ini bukan senyuman sinis yang dia tunjukkan .Melainkan senyuman kebahagian .
THE END
NOTE
Cyborg : Tubuh manusia / organisme yang fungsinya diambil alih oleh bermacam-
Macam alat elektronik . Orang yang dijadikan Cyborg adalah orang yang
Yang sudah mati .
Bionik : Penggantian bagian tubuh tertentu dengan alat buatan sehingga kekuatan dan
Kemampuan bertambah .
Kyrogenik : Sistem Pembekuan tubuh dengan suhu -150 derajat celesius . Sistem ini
Memperlambat siklus tubuh .
Oleh : Yuki-Chan
Ini Blog Milik INDONESIA
Sekarang Waktu Sedang Menunjukkan Pukul
Jenis Cerpen yang Kami Miliki
- Cerpen Cinta (2)
- Cerpen Humor (2)
- Cerpen Kehidupan (4)
- Cerpen Putu Wijaya (1)
- Cerpen Sains (1)
- Cerpen Sehari-Hari (2)
Silahkan Mencari Cerpen yang Anda Inginkan
Website-Website Bermanfaat
Hubungi Kami
Kirimkan Kritik Dan Saran Serta Karya Tulis Terbaik Anda Kepada Kami Melalui Email :
Sabtu, 12 September 2009
upps...salah curhat.(ciko & charlie)
Malam ini ciko duduk dikursi panas disebuah kafetaria,ia sedang berbicara empat mata dengan "NIA" cewek yang sudah menjadi pacarnya selama sebulan .kali ini ia mendapat kejutan yang sangat mengejutkan."kita putus !"ucap nia denga nada santai. "putus ,kok putus , sih ?desah cilo yang tadinya menyemburkan seisi mulutnya kemeja berlapis kaca."aku mau putus aja ,"sahutnya."tapi salah aku apaan ? tanya tio masih berkeras."banyak ! jawab nia."contohnya ?ciko terus ingin tau."kamu itu kekanak-kanakan.ciko menggelengkan kepalanya"masa sih ? tanyanya dengan wajah bingung."iya dan karena itu kamu selalu ngebuat aku malu ! katanya dengan sinis."emang gitu,ya? ciko menggaruk-garuk kepalanya.nia bangkit dari kursi"pokoknya kita putus ! menghentakan tangannya ke meja,lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ciko yang wajahnya tak karuan. kos-kosan ciko dipenuhi dengan tisu yang menggulung,tapi banjir air matanya belum kering juga,tak puas akhirnya dia melemparkan semua benda didekatnya kesgala penjuru."aduh ! ada suara dari arah jam tiga."charlie bukannya lo kerumah nenek loe ? tanya ciko kepada temanya yang barusan ia lempar dengan jam waker tepat dikepalanya."gak jadi nenek gue udah sembuh ,"sahutnya sambil mengusap kepalanya."hah,kok bisa ? tanya ciko."mana gue tau ,"jawabnya."uhh..! desah ciko. menghempaskan tubuhnya kesofa didepan televisi."eh lo apain kosan kita jadi amburadul gini ?tanyanya. sambil menukikan pandangannya kebenda yang tepat ada dikakinya."cuma sedikit renovasi ,"jawabnya sambil menyalakan tv."renovasi apaan kayak begini ?desahnya dengan jengkel."ini tren terbaru penataan ruangan ." "dasar loe ,setress !!! ini lagi jam waker kesayangan gue." jam butut kayak gitu juga,"ucap ciko bersandar lemas."enak aja jam ini sudah punya banyak jasa ngebangunin kita sekolah !" "udah dech gak usah bahas itu ,gue lagi kesel ! tuntutnya."kenapa loe putus ama nia ,ya ? hingga membuat maa ciko melotot kearahnya."dari mana loe tau ? tanya ciko." ya ,iyalah kan loe selalu mewek klo di putusin cewek ." "huh jawaban lo ngejengkelin !kata ciko menekuk wajahny."kali ini alasannya ,apalagi curhat aja ama gue ! memberi usul."dia bilang gue kekanak-kanakan ." lalu loe ngerasa gak ? berjalandan duduk disebelah ciko."dikit."sahutnya."gue kan pernah bilang nia tuh gak baik buat loe ! kata charlie."iya sih, tapi nia itu cantik ,imute, lucu."lalu lo pikir loe atau nia ang salah sekarang? tanyanya."mungkin nia ,mungkin juga gue ! jawabnya ragu."hah,manknya lo juga ngerasa salah ? charlie heran."dikit." "dari tadi dikit-dkit mulu ,yang bener apaan ? melototi ciko."iya,gue yang salah ! lagi-lagi menekuk wajahnya."baguslah,"ucapnya sangat pelan."heh , apa kata loe tadi ? ciko mendengar pelan suara tadi."maksud gue bagus, kalo elo ngalah demi nia,"menggeserkan pandangannya."oh gitu," mengangguk-anggukan kepalanya."jadi intinya lo ngakuin sifat kekanak kanakan loe ,nih ?kata charlie mengangkat sebelah alisnya."ya,gitu dech ." "manknya loe rela nia sama orang lain ? tanyanya."ya,kalo nia bahagia,kenapa enggak ,"ucapnya."gak gue sangka lo bijak juga." "yee, baru nyadar loe??? sahut ciko berhenti menekuk wajahnya.ada suara ketukan dari arah pintu ,ciko bangkit dari kursi dan setelah ia membuka pintu ,ia kaget ternyata itu nia mantan pacarnya yang ngemutusin dia kemarin."hai,ciko !" sapanya lembut."sudahku kira kamu pasti kangen sehari aja gak ketemu aku," katanya dengan grnya."maaf tapi aku kesini bukan buat nemuin kamu." "jangan boong dech manknya siapa lagi klo bukan aku ? masih yakin akan dirinya.tiba-tiba charlie keluar."hai,sayang !"sapa nia padanya."sayang ??? ciko ternganga"sejak kapan kalian...???? "jadian maksud loe ? oh,ya gue lupa, gue kesini mau minta restu lo." "restu apaan ? ia semakin bingung."yang barusan kita obrolin ,masa loe lupa ,"sahutnya."jadi loe...???? "etzz...jangan marah lo kan dah setuju barusan !"ucapnya dengan senyum.ciko tak bisa berkata lagi ia termakan omongannya sendiri."and lo tenang aja gue bakal buat nia bahagia kok !"katanya.tapi....." ciko kalah telak."udah simpan aja tapi loe itu,gue mau ngedate ama nia dulu,lo jaga kosan kita yah!! berjalan lalu menggandeng tangan nia,ia berhenti sejenak lalu mengedipkan sebelah matanya pada ciko.sedangkan ciko hanya terdiam tapi dipikirannya ,ia berteriak habis-habisan,karna tertipu oleh curhat konyol charlie itu.
Oleh : Ridho
Oleh : Ridho
Bingkai
UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga, ketika aku keluar dari ruang rapat. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus.
Saat kubuka sampul plastiknya, telepon di mejaku berdering. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai".
"Selamat siang dengan Dudi, Auto Suryatama," sambutku automatically.
"Ahai, tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang.
"Maaf, siapakah ini?"
"Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Tak hanya bertemu, karena sepanjang dua malam kita bersama-sama." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. "Sorry, aku telepon ke kantor. Hp-mu tidak aktif."
"Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. Bukan tidak aktif, lebih tepat: nomornya berbeda. "Aku baru saja menerima sebuah undangan, jadi konsentrasiku bercabang. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?"
"Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…"
"Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Hebat!"
"Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar."
Aku terkesiap mendengarnya.
"Cintamu, Dudi!" sambung Susan.
Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu, bukan membisikkan, yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket.
"Dudi, kenapa kamu diam saja?"
"Oh, sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak, tapi tentu salah tempat. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu, mau membicarakan pekerjaan…"
"Oke, Sayang. Aku akan meneleponmu lagi nanti. After office hour, ya!"
Gagang telepon masih di telinga, menunggu Susan memutuskan hubungan. Bahkan setelah hubungan telepon terputus, seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. Rembes ke dalam hati. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap, dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. Tak ada siapa-siapa di depanku. Jadi, aku tadi berdusta. Maafkan aku, Susan. Ternyata aku telah banyak berdusta. Tapi, percayalah, kasih sayangku kepadamu begitu jujur.
***
SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue, karena malam ini sepupunya akan datang. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Ada toko kue langganan sebenarnya, tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. Selintas kulihat, di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar, sehingga mudah mendapatkan tempat.
Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri, yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. Kulihat sepintas, ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa, yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Dan di tengah lingkaran para tamu, kuangankan si anggun Susan, dengan rambut dibiarkan terurai, bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. Apa namanya tadi? Bingkai!
Aku turun dari mobil, melenggang masuk dalam kerumunan. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu, tentu ingin juga "cuci mata" di sini, apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis, gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. Waktu itu dia mengeluh, karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan.
"Aku iki isane nulis cerpen, lha kok dikongkon gawe resensi lukisan, yok opo sih?!" Ya. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen, kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan, bagaimana sih?!
Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi, sehingga waktu itu, selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincang-bincang. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis.
Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan, tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan, dan memenuhi pesanan Lanfang.
Sepanjang sisa jalan pulang, yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali, rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang, tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan.
Jadi, mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali, agar tidak terlampau mencurigakan, isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. Nanti malam, sebelum bercinta. Dengan demikian, tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Tapi… astaga, bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi, karena waktunya masih lama, Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Dengan cara itu, biaya penginapannya gratis, bukan?
Keringat mengembun di keningku. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan, seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. Aha, aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang, yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah, namanya juga tugas. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana." Seraya mengelus pipiku. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi.
Tapi tarikan pipiku berubah. Senyumku beralih rasa cemas. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah, biar tidak suntuk di sana, aku ikut menemani. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta."
Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. Padahal tak ada "polisi tidur" di situ. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Susan!
"Hai, aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku."
"O, no problem. Kebetulan aku sudah di jalan raya."
"Ya sudah, aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Sampai besok, ya. Mmmuah!"
Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. Pagar rumah sudah di depan mata. Langit mulai gelap, lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Dan seperti biasa, pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. Aku memarkir mobil ke carport.
"Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu.
"Tentu, Cantik." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya.
"Terima kasih." Dipeluknya aku, meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku. Mudah-mudahan.
Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang.
***
AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai, yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Dia seorang pemilih yang baik. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo.
"Kamu harus menginap di Lor In," usulnya. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. Walaupun, ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas, nyaris tak berbeda dengan hotel lain. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. Harum cendana memenuhi bath-tub.
"Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk." Aku menelepon Lanfang dari kantor.
"Ya. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Kenapa?"
"Besok aku tugas ke luar pulau. Ke Lombok, tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. Aku belum sempat membereskan kopor, bisa minta tolong?"
"Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?"
"Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Sekitar tiga-empat hari, tergantung bagaimana kondisi network di Lombok."
"Yo wis, ojo bengi-bengi mulihe. Kamu perlu istirahat malam ini."
Tentu tidak akan larut malam, karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Tapi yang penting aku tahu, Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting.
Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca, menyurutkan lampu kamar hingga temaram, lalu masuk ke bawah selimutku. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet, tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata.
Sebelum tertidur, Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. Ke dekat urat nadinya. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Tetapi besok, begitu tiba di Denpasar, kutelepon Lanfang seperlunya, selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. Hanya Susan yang tahu nomor itu. Bagaimanapun, berdusta itu mendebarkan!
***
AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. Senja baru saja lenyap. Kudengar musik sayup gamelan Bali. Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku, sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-- anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali, menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar.
"Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu sudah tiba. Kita akan mulai acaranya…"
Aku agak kikuk, namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. Ada beberapa bule yang hadir di sana. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. Mereka memotret. Sejenak mataku silau.
Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku.
Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Wajahnya tertegun. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat.
"Baiklah," ujar master of ceremony. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Silakan Susan bercerita untuk kita…"
Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan, karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya?
"Lanfang!" aku memanggil.
Di luar sunyi, tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.
"Nama Bingkai kupilih karena…." Suara Susan semakin sayup. Sementara di taman yang separuh gelap itu, aku mencari degup jantung Lanfang. ***
Oleh : Kurnia Effendi
Saat kubuka sampul plastiknya, telepon di mejaku berdering. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai".
"Selamat siang dengan Dudi, Auto Suryatama," sambutku automatically.
"Ahai, tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang.
"Maaf, siapakah ini?"
"Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Tak hanya bertemu, karena sepanjang dua malam kita bersama-sama." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. "Sorry, aku telepon ke kantor. Hp-mu tidak aktif."
"Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. Bukan tidak aktif, lebih tepat: nomornya berbeda. "Aku baru saja menerima sebuah undangan, jadi konsentrasiku bercabang. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?"
"Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…"
"Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Hebat!"
"Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar."
Aku terkesiap mendengarnya.
"Cintamu, Dudi!" sambung Susan.
Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu, bukan membisikkan, yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket.
"Dudi, kenapa kamu diam saja?"
"Oh, sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak, tapi tentu salah tempat. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu, mau membicarakan pekerjaan…"
"Oke, Sayang. Aku akan meneleponmu lagi nanti. After office hour, ya!"
Gagang telepon masih di telinga, menunggu Susan memutuskan hubungan. Bahkan setelah hubungan telepon terputus, seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. Rembes ke dalam hati. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap, dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. Tak ada siapa-siapa di depanku. Jadi, aku tadi berdusta. Maafkan aku, Susan. Ternyata aku telah banyak berdusta. Tapi, percayalah, kasih sayangku kepadamu begitu jujur.
***
SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue, karena malam ini sepupunya akan datang. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Ada toko kue langganan sebenarnya, tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. Selintas kulihat, di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar, sehingga mudah mendapatkan tempat.
Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri, yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. Kulihat sepintas, ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa, yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Dan di tengah lingkaran para tamu, kuangankan si anggun Susan, dengan rambut dibiarkan terurai, bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. Apa namanya tadi? Bingkai!
Aku turun dari mobil, melenggang masuk dalam kerumunan. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu, tentu ingin juga "cuci mata" di sini, apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis, gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. Waktu itu dia mengeluh, karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan.
"Aku iki isane nulis cerpen, lha kok dikongkon gawe resensi lukisan, yok opo sih?!" Ya. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen, kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan, bagaimana sih?!
Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi, sehingga waktu itu, selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincang-bincang. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis.
Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan, tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan, dan memenuhi pesanan Lanfang.
Sepanjang sisa jalan pulang, yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali, rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang, tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan.
Jadi, mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali, agar tidak terlampau mencurigakan, isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. Nanti malam, sebelum bercinta. Dengan demikian, tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Tapi… astaga, bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi, karena waktunya masih lama, Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Dengan cara itu, biaya penginapannya gratis, bukan?
Keringat mengembun di keningku. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan, seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. Aha, aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang, yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah, namanya juga tugas. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana." Seraya mengelus pipiku. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi.
Tapi tarikan pipiku berubah. Senyumku beralih rasa cemas. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah, biar tidak suntuk di sana, aku ikut menemani. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta."
Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. Padahal tak ada "polisi tidur" di situ. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Susan!
"Hai, aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku."
"O, no problem. Kebetulan aku sudah di jalan raya."
"Ya sudah, aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Sampai besok, ya. Mmmuah!"
Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. Pagar rumah sudah di depan mata. Langit mulai gelap, lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Dan seperti biasa, pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. Aku memarkir mobil ke carport.
"Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu.
"Tentu, Cantik." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya.
"Terima kasih." Dipeluknya aku, meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku. Mudah-mudahan.
Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang.
***
AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai, yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Dia seorang pemilih yang baik. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo.
"Kamu harus menginap di Lor In," usulnya. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. Walaupun, ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas, nyaris tak berbeda dengan hotel lain. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. Harum cendana memenuhi bath-tub.
"Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk." Aku menelepon Lanfang dari kantor.
"Ya. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Kenapa?"
"Besok aku tugas ke luar pulau. Ke Lombok, tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. Aku belum sempat membereskan kopor, bisa minta tolong?"
"Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?"
"Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Sekitar tiga-empat hari, tergantung bagaimana kondisi network di Lombok."
"Yo wis, ojo bengi-bengi mulihe. Kamu perlu istirahat malam ini."
Tentu tidak akan larut malam, karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Tapi yang penting aku tahu, Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting.
Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca, menyurutkan lampu kamar hingga temaram, lalu masuk ke bawah selimutku. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet, tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata.
Sebelum tertidur, Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. Ke dekat urat nadinya. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Tetapi besok, begitu tiba di Denpasar, kutelepon Lanfang seperlunya, selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. Hanya Susan yang tahu nomor itu. Bagaimanapun, berdusta itu mendebarkan!
***
AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. Senja baru saja lenyap. Kudengar musik sayup gamelan Bali. Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku, sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-- anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali, menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar.
"Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu sudah tiba. Kita akan mulai acaranya…"
Aku agak kikuk, namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. Ada beberapa bule yang hadir di sana. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. Mereka memotret. Sejenak mataku silau.
Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku.
Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Wajahnya tertegun. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat.
"Baiklah," ujar master of ceremony. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Silakan Susan bercerita untuk kita…"
Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan, karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya?
"Lanfang!" aku memanggil.
Di luar sunyi, tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.
"Nama Bingkai kupilih karena…." Suara Susan semakin sayup. Sementara di taman yang separuh gelap itu, aku mencari degup jantung Lanfang. ***
Oleh : Kurnia Effendi
Peradilan Rakyat
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***
Oleh : Putu Wijaya
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***
Oleh : Putu Wijaya
Jumat, 11 September 2009
Belo yang Ingin Diperistri Lelaki Kaya Itu...
Rasanya aku mengenal perempuan, yang bergenggaman tangan dengan pria asing, tampan tinggi tegap, yang berdiri di depan pintu masuk restoran itu. Ia persis sekali Belo, kawan sepermainanku di dusun, yang bercita-cita ingin menjadi istri lelaki kaya, yang memberinya rumah gedong, mobil colt, dan toko kelontong!
Jika benar itu Belo, aku gembira melihatnya di kala pikiranku kalut dan pasrah seperti ini.
Tak banyak yang berubah padanya. Rambut lurus sepunggung, hidung sedang, dan kulit hitam. Aku suka memandang matanya yang bundar besar, maka itu aku dan teman-teman memanggil Atikah, Belo. Mata itu sama bagusnya kala ia mendelik, marah, kesal, kecewa, dan gembira.
Pandangan perempuan itu menyapu seluruh ruang restoran. Aku menunggu dengan was-was, semoga ia melihat dan mengenali lelaki yang dulu tak sudi ia nikahi karena bercita-cita menjadi pegawai pemerintah.
Siang itu aku sendirian, menikmati, lebih tepatnya mencoba menikmati sushi, menghilangkan gundah, di restoran Jepang langgananku, sambil menunggu sesuatu yang bisa saja menimpaku hari ini.
Aku duduk tak jauh dan searah dengan tempat ia berdiri. Aku menatapnya, berharap kami bersirobok pandang. Aku akan berlari menghampirinya jika ia melihat dan mengenaliku. Ternyata aku lepas dari pandangannya. Kulihat kemudian ia memandang pria di sampingnya dengan senyum memesona.
Belo masih bahenol! Dia benci sekali disebut bahenol, karena tidak suka pada buah dada dan pantatnya yang berisi, yang menurutnya memalukan karena tidak sama dengan ukuran teman-teman seusianya dan sering jadi bahan olok-olok. Dia berupaya menyembunyikan buah dadanya dengan mengenakan kutang ketat, menghimpit.
Siang itu ia mengenakan sackdress batik motif riang, berleher rendah, tanpa lengan. Sepatu sandal bertumit sedang. Tas kulit cokelat kecil dengan simbol tapal kuda tergantung di bahunya. Mustahil ia bisa membeli tas kulit buatan Jerman itu dari hasil tangannya memegang ani-ani memetik padi serupa dahulu.
Benarkah itu Belo? Belo yang pernah kubonceng di punggung lembu yang kugembala keliling di tegalan dengan jalan tanah gronjalan. Belo yang kala itu duduk di kelas 1 SMP pernah membuatku terpana, karena bercita-cita ingin menjadi istri lelaki kaya, yang bisa memberinya rumah gedong, mobil colt, dan toko kelontong.
Belo tertawa kencang ketika kukatakan aku ingin menjadi pegawai pemerintah, yang kerjanya ringan dan sebentar, tapi dapat gaji tiap bulan.
''Kalau begitu aku tidak akan menikah denganmu. Guru dan pegawai desa yang kerja pakai seragam tidak kaya,'' katanya.
''Menurutmu pekerjaan apa yang membuat aku kaya dan bisa menikahimu?''
''Jadi juragan angkot seperti Haji Juki, yang bekerja dari pagi hingga sore, bahkan malam hari. Makanya ia banyak uang, bisa beli rumah, mobil, dan membantu anak-anak tak punya, seperti kita, menyelesaikan sekolah.''
Akan kukatakan padanya kalau dia keliru. Ternyata pegawai pemerintah juga bisa kaya!
***
Aku dan Belo berasal dari keluarga miskin. Gubuk kami bersebelahan. Kami sekelas dari kelas satu sampai kelas enam, di SD Inpres yang beberapa temboknya berlubang. Kami ragu-ragu bisa menyelesaikan SMP negeri. Untungnya kami tergolong pandai. Itu sebab Haji Juki memberi kami beasiswa hingga selesai SMP dan lulus dengan nilai tidak jelek-jelek amat untuk orang miskin, yang tak punya banyak waktu untuk belajar karena harus bekerja.
Satu saat Belo mengatakan padaku ingin sekali bisa mengendarai sepeda.
''Dari mana kau dapat uang untuk membelinya?'' tanyaku.
''Aku sedang mikir bagaimana cara bisa naik sepeda tanpa perlu membelinya.''
Sebulan kemudian aku kaget bukan main ketika melihat Belo menggenjot sepeda ontel milik Mbak Yum, putri Kepala Desa. Ia kemudian memboncengku. Namun, karena Belo belum mahir betul, ia gugup saat berpapasan dengan pedati. Ia kehilangan kendali. Kami pun terperosok ke parit, di tepi jalan.
''Aku jadi mak comblang Mbak Yum dan Pak Guru. Aku yang mengantar surat-surat mereka. Aku juga suka mengantar mereka pacaran di bantaran sungai,'' cerita Belo.
Tak lama setelah itu aku melihat Belo bisa mengendarai motor bebek milik Palal, putra pemilik penggilingan padi.
Menurut teman-teman, Belo bisa belajar motor karena pacaran dengan Palal, kelas 2 SMA. Seseorang mengatakan, telah melihat Belo dibonceng Palal ke waduk tempat wisata, di dusun sebelah. Belo dibonceng dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Palal. Sebelah kepalanya tergolek di punggung Palal.
Mengingat sepak terjang yang pernah dilakukannya, mungkin saja, perempuan itu adalah Belo. Mungkin saja pria asing itu suaminya yang kaya, memberinya rumah gedong. mobil colt, dan toko kelontong?
Melihat penampilannya, Belo tentu sudah pensiun dari kerja serabutan. Dulu, banyak pekerjaan yang ia lakukan untuk memperoleh nasi, beras, atau uang. Sepulang sekolah kadang ia diminta menjaga warung kelontong Aheng, sejam dua jam. Aheng memberinya makan siang dan sedikit uang.
Lalu pindah ke rumah Kepala Desa menyapu daun-daun kelengkeng kering di halamannya yang luas. Ia makan malam di situ. Usai magrib ia ke surau, mengaji. Setelahnya kadang membantu Emak Biyoh membungkus kue moci jika mendapat banyak pesanan. Di musim panen ia ikut memegang ani-ani, memetik padi.
Orang-orang senang mempekerjakan Belo yang murah senyum, manis, periang, rajin bekerja, jujur, dan pandai membawa diri. Di kalangan pemuda pemudi ia terkenal sebagai orang yang bisa dipercaya menjadi mak comblang. Ia baik padaku, sering membagi makanan dari pemberian orang-orang.
Aku adalah Si Gembala, begitu orang-orang kampung memanggilku karena itulah keahlianku. Aku bisa menggembala kambing dan kerbau. Kambing kubawa ke padang rumput di balik bukit. Senjataku pecut dan sabit untuk menebas rumput. Kepala Desa puas dengan jasaku karena kerbau peliharaannya tumbuh sehat dan bersih. Aku sering memandikannya di sungai, menggosoknya dengan sabut kelapa kering.
Kalau sedang tidak ada pekerjaan Belo turut menggembala denganku. Ia membantuku menyabit rumput dan mengawasi kambing agar tidak lepas dari rombongan. Sambil mengawasi kambing kami membuat boneka-bonekaan dari ilalang yang panjang-panjang. Jika menggembala kerbau, kami paling suka naik di punggungnya, mengikuti langkah kerbau yang lamban dengan terus memamah rumput-rumput yang ia lewati Saking seringnya kami terlihat berduaan, kami diisukan pacaran.
''Kamu tahu aku, cita-citaku jadi istri lelaki kaya, yang memberiku rumah gedong, mobil, dan toko kelontong. Tapi, kalau kamu kaya, mungkin aku akan menikah denganmu.'' Begitu Belo berkomentar tentang gosip tersebut, saat kami pulang menggembala kambing, menuruni bukit setengah berlari. Kala itu kami duduk di kelas 3 SMP. Namun Belo seperti siswi kelas 2 SMA karena tubuhnya bongsor. Lekuk dan bukit-bukit kewanitaannya tampak menonjol. Sementara aku, mimpi basah pun belum.
Selulus SMP Belo pindah ke kota kabupaten, ikut salah seorang saudaranya yang berjualan di pasar. Dari ayahnya aku dengar ia sekolah di SMKK. Sementara, karena nilaiku yang bagus, Haji Juki menawariku melanjutkan ke SMA. Sore dan hari libur aku diminta bantu-bantu di pool angkotnya.
Tak lama setelah itu aku belajar mengemudi. Ingin sekali aku menunjukkan pada Belo bahwa meski tak memiliki mobil aku kini bisa menyopir. Bahkan kadang di hari libur aku menjadi sopir tembak. Satu hari aku mengemudi dengan kencang menghindari kejaran polisi karena aku tidak punya SIM. Sialnya mobilku menabrak mobil baru milik Pak Hakim yang sedang diparkir di tepi jalan. Polisi menangkapku dengan dua kesalahan, menabrak mobil dan tidak punya SIM. Tapi, aku terbebas dari jerat hukum karena Haji Juki memberi uang damai pada polisi.
Sejak saat itu aku bertekad ingin menjadi hakim, pegawai pemerintah yang kulihat punya mobil mewah.
Gubuk kami kemudian tak lagi bersebelahan setelah sebagian kampung kami digunakan untuk asrama haji. Berhubung untuk kepentingan amal penduduk tidak keberatan mendapat ganti rugi. Saat itu aku baru tahu kalau gubuk keluargaku dan Belo dibangun di atas tanah Haji Juki. Haji Juki kemudian memberi keluarga kami sebuah gudang kosong dekat lumbung padi miliknya. Sedangkan Belo dan ayahnya meninggalkan desa, ikut saudaranya.
Sejak itu aku tidak pernah bertemu Belo.
***
Kutatap lekat-lekat perempuan yang berjalan ke arahku, menggelendot di lengan pria tampan, tinggi tegap itu. Aku semakin yakin ia adalah Belo. Aku ingin cerita padanya bahwa Haji Juki memuji kepintaranku dan terus membantuku kuliah dan lulus dengan nilai-nilai yang bagus.
Citaku-citaku untuk menjadi pegawai pemerintah terwujud. Aku ingin Belo tahu bahwa pekerjaan itu membuatku kaya. Aku punya dua rumah besar, satu apartemen, tiga mobil mewah, deposito, dan lain-lain. Aku yakin mata bundar Belo akan terbelalak ketika tahu isi pundi-pundiku.
Bukan hanya itu, teman-temanku banyak; politisi, pengusaha, dan pengacara. Namaku belakangan ini sedang beredar media cetak dan terus masuk di breaking news televisi. Aku sudah merasa, mungkin hari ini akan menjadi hari besarku. Jika ia rajin menyimak berita tentulah ia tahu betapa populer teman masa kecilnya ini. Bagaimana ya perasaannya?
Kuputuskan aku akan menghampirinya dan menyapanya. Jika benar dia Belo akan kujelaskan tentangku sebelum ia tahu dari orang lain. Tapi perlukah?
''Belo,'' aku pura-pura terkejut saat aku bersimpangan langkah dengannya.
Belo menatapku dengan matanya yang belo, bundar besar dan indah.
Reaksinya kulihat ragu-ragu. ''Maaf, saya kira Anda...'' Kupikir dia bukan Belo atau ia lupa padaku. Jangan-jangan ia tak mau kenal lagi denganku.
Ia meneliti wajahku, dasiku, sepatuku, sekujur tubuhku. Lalu spontan ia memelukku, mengesun kedua pipiku. ''Aku tahu hanya teman-teman masa kecil yang memanggilku Belo. Namun aku ingin yakin bahwa kamu adalah Si Gembala.''
''Masih ingat panggilanku...,'' ucapku.
Belo tersenyum. ''Tentu saja. Oh, ya, ini Angelo suamiku. Kecil dulu aku dan dia suka menggembala bersama,'' cerita Belo pada suaminya.
''Kami tinggal di Italia, bisnis ukiran Jepara. Banyak peminat ukiran di sana...''
Italia? Pantaslah, jika ia tidak tahu bahwa teman masa kecilnya terkenal.
''Senang sekali bertemu kamu. Istrimu, anakmu, kamu, kok tampak kusut-masai?'' Belo memegang kedua pundakku, menatap mataku lekat-lekat.
Aku ingin mengatakan sesuatu pada Belo, tapi mataku menangkap beberapa wartawan televisi dan media cetak bergegas masuk ke restoran. Aku tercekat dibuatnya. Aku tak punya waktu lagi.
''Angelo, bagaimana kalau kita rayakan pertemuan dengan teman lamaku?''
''Sure...'' Angelo menepuk pundakku, mengajakku mengikuti pelayan yang mengantar ke meja.
Aku pura-pura menjajari langkahnya. Sebab aku tahu, langkahku akan terhenti beberapa saat lagi. Derap sepatu itu sudah ada di belakangku, semakin dekat. Lalu seorang petugas polisi berdiri di depanku.
''Pak Hakim, kami memegang surat perintah untuk...''
Wartawan televisi kemudian mengerubutiku, mewawancaraiku. Kulihat Belo menatapku dengan mata bundarnya yang tetap bagus kala ia mendelik marah, kesal, kecewa, dan bahagia. Beberapa saat kemudian kulihat ia mengucek-ucek matanya yang belo dengan mulut terbuka.
Aku yakin sebentar lagi ia akan tahu tentang Si Gembala, yang tak lain adalah hakim yang terungkap menerima suap, dari breaking news di hampir semua statsiun televisi. ***
Oleh : Ida Ahdiah
Jika benar itu Belo, aku gembira melihatnya di kala pikiranku kalut dan pasrah seperti ini.
Tak banyak yang berubah padanya. Rambut lurus sepunggung, hidung sedang, dan kulit hitam. Aku suka memandang matanya yang bundar besar, maka itu aku dan teman-teman memanggil Atikah, Belo. Mata itu sama bagusnya kala ia mendelik, marah, kesal, kecewa, dan gembira.
Pandangan perempuan itu menyapu seluruh ruang restoran. Aku menunggu dengan was-was, semoga ia melihat dan mengenali lelaki yang dulu tak sudi ia nikahi karena bercita-cita menjadi pegawai pemerintah.
Siang itu aku sendirian, menikmati, lebih tepatnya mencoba menikmati sushi, menghilangkan gundah, di restoran Jepang langgananku, sambil menunggu sesuatu yang bisa saja menimpaku hari ini.
Aku duduk tak jauh dan searah dengan tempat ia berdiri. Aku menatapnya, berharap kami bersirobok pandang. Aku akan berlari menghampirinya jika ia melihat dan mengenaliku. Ternyata aku lepas dari pandangannya. Kulihat kemudian ia memandang pria di sampingnya dengan senyum memesona.
Belo masih bahenol! Dia benci sekali disebut bahenol, karena tidak suka pada buah dada dan pantatnya yang berisi, yang menurutnya memalukan karena tidak sama dengan ukuran teman-teman seusianya dan sering jadi bahan olok-olok. Dia berupaya menyembunyikan buah dadanya dengan mengenakan kutang ketat, menghimpit.
Siang itu ia mengenakan sackdress batik motif riang, berleher rendah, tanpa lengan. Sepatu sandal bertumit sedang. Tas kulit cokelat kecil dengan simbol tapal kuda tergantung di bahunya. Mustahil ia bisa membeli tas kulit buatan Jerman itu dari hasil tangannya memegang ani-ani memetik padi serupa dahulu.
Benarkah itu Belo? Belo yang pernah kubonceng di punggung lembu yang kugembala keliling di tegalan dengan jalan tanah gronjalan. Belo yang kala itu duduk di kelas 1 SMP pernah membuatku terpana, karena bercita-cita ingin menjadi istri lelaki kaya, yang bisa memberinya rumah gedong, mobil colt, dan toko kelontong.
Belo tertawa kencang ketika kukatakan aku ingin menjadi pegawai pemerintah, yang kerjanya ringan dan sebentar, tapi dapat gaji tiap bulan.
''Kalau begitu aku tidak akan menikah denganmu. Guru dan pegawai desa yang kerja pakai seragam tidak kaya,'' katanya.
''Menurutmu pekerjaan apa yang membuat aku kaya dan bisa menikahimu?''
''Jadi juragan angkot seperti Haji Juki, yang bekerja dari pagi hingga sore, bahkan malam hari. Makanya ia banyak uang, bisa beli rumah, mobil, dan membantu anak-anak tak punya, seperti kita, menyelesaikan sekolah.''
Akan kukatakan padanya kalau dia keliru. Ternyata pegawai pemerintah juga bisa kaya!
***
Aku dan Belo berasal dari keluarga miskin. Gubuk kami bersebelahan. Kami sekelas dari kelas satu sampai kelas enam, di SD Inpres yang beberapa temboknya berlubang. Kami ragu-ragu bisa menyelesaikan SMP negeri. Untungnya kami tergolong pandai. Itu sebab Haji Juki memberi kami beasiswa hingga selesai SMP dan lulus dengan nilai tidak jelek-jelek amat untuk orang miskin, yang tak punya banyak waktu untuk belajar karena harus bekerja.
Satu saat Belo mengatakan padaku ingin sekali bisa mengendarai sepeda.
''Dari mana kau dapat uang untuk membelinya?'' tanyaku.
''Aku sedang mikir bagaimana cara bisa naik sepeda tanpa perlu membelinya.''
Sebulan kemudian aku kaget bukan main ketika melihat Belo menggenjot sepeda ontel milik Mbak Yum, putri Kepala Desa. Ia kemudian memboncengku. Namun, karena Belo belum mahir betul, ia gugup saat berpapasan dengan pedati. Ia kehilangan kendali. Kami pun terperosok ke parit, di tepi jalan.
''Aku jadi mak comblang Mbak Yum dan Pak Guru. Aku yang mengantar surat-surat mereka. Aku juga suka mengantar mereka pacaran di bantaran sungai,'' cerita Belo.
Tak lama setelah itu aku melihat Belo bisa mengendarai motor bebek milik Palal, putra pemilik penggilingan padi.
Menurut teman-teman, Belo bisa belajar motor karena pacaran dengan Palal, kelas 2 SMA. Seseorang mengatakan, telah melihat Belo dibonceng Palal ke waduk tempat wisata, di dusun sebelah. Belo dibonceng dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Palal. Sebelah kepalanya tergolek di punggung Palal.
Mengingat sepak terjang yang pernah dilakukannya, mungkin saja, perempuan itu adalah Belo. Mungkin saja pria asing itu suaminya yang kaya, memberinya rumah gedong. mobil colt, dan toko kelontong?
Melihat penampilannya, Belo tentu sudah pensiun dari kerja serabutan. Dulu, banyak pekerjaan yang ia lakukan untuk memperoleh nasi, beras, atau uang. Sepulang sekolah kadang ia diminta menjaga warung kelontong Aheng, sejam dua jam. Aheng memberinya makan siang dan sedikit uang.
Lalu pindah ke rumah Kepala Desa menyapu daun-daun kelengkeng kering di halamannya yang luas. Ia makan malam di situ. Usai magrib ia ke surau, mengaji. Setelahnya kadang membantu Emak Biyoh membungkus kue moci jika mendapat banyak pesanan. Di musim panen ia ikut memegang ani-ani, memetik padi.
Orang-orang senang mempekerjakan Belo yang murah senyum, manis, periang, rajin bekerja, jujur, dan pandai membawa diri. Di kalangan pemuda pemudi ia terkenal sebagai orang yang bisa dipercaya menjadi mak comblang. Ia baik padaku, sering membagi makanan dari pemberian orang-orang.
Aku adalah Si Gembala, begitu orang-orang kampung memanggilku karena itulah keahlianku. Aku bisa menggembala kambing dan kerbau. Kambing kubawa ke padang rumput di balik bukit. Senjataku pecut dan sabit untuk menebas rumput. Kepala Desa puas dengan jasaku karena kerbau peliharaannya tumbuh sehat dan bersih. Aku sering memandikannya di sungai, menggosoknya dengan sabut kelapa kering.
Kalau sedang tidak ada pekerjaan Belo turut menggembala denganku. Ia membantuku menyabit rumput dan mengawasi kambing agar tidak lepas dari rombongan. Sambil mengawasi kambing kami membuat boneka-bonekaan dari ilalang yang panjang-panjang. Jika menggembala kerbau, kami paling suka naik di punggungnya, mengikuti langkah kerbau yang lamban dengan terus memamah rumput-rumput yang ia lewati Saking seringnya kami terlihat berduaan, kami diisukan pacaran.
''Kamu tahu aku, cita-citaku jadi istri lelaki kaya, yang memberiku rumah gedong, mobil, dan toko kelontong. Tapi, kalau kamu kaya, mungkin aku akan menikah denganmu.'' Begitu Belo berkomentar tentang gosip tersebut, saat kami pulang menggembala kambing, menuruni bukit setengah berlari. Kala itu kami duduk di kelas 3 SMP. Namun Belo seperti siswi kelas 2 SMA karena tubuhnya bongsor. Lekuk dan bukit-bukit kewanitaannya tampak menonjol. Sementara aku, mimpi basah pun belum.
Selulus SMP Belo pindah ke kota kabupaten, ikut salah seorang saudaranya yang berjualan di pasar. Dari ayahnya aku dengar ia sekolah di SMKK. Sementara, karena nilaiku yang bagus, Haji Juki menawariku melanjutkan ke SMA. Sore dan hari libur aku diminta bantu-bantu di pool angkotnya.
Tak lama setelah itu aku belajar mengemudi. Ingin sekali aku menunjukkan pada Belo bahwa meski tak memiliki mobil aku kini bisa menyopir. Bahkan kadang di hari libur aku menjadi sopir tembak. Satu hari aku mengemudi dengan kencang menghindari kejaran polisi karena aku tidak punya SIM. Sialnya mobilku menabrak mobil baru milik Pak Hakim yang sedang diparkir di tepi jalan. Polisi menangkapku dengan dua kesalahan, menabrak mobil dan tidak punya SIM. Tapi, aku terbebas dari jerat hukum karena Haji Juki memberi uang damai pada polisi.
Sejak saat itu aku bertekad ingin menjadi hakim, pegawai pemerintah yang kulihat punya mobil mewah.
Gubuk kami kemudian tak lagi bersebelahan setelah sebagian kampung kami digunakan untuk asrama haji. Berhubung untuk kepentingan amal penduduk tidak keberatan mendapat ganti rugi. Saat itu aku baru tahu kalau gubuk keluargaku dan Belo dibangun di atas tanah Haji Juki. Haji Juki kemudian memberi keluarga kami sebuah gudang kosong dekat lumbung padi miliknya. Sedangkan Belo dan ayahnya meninggalkan desa, ikut saudaranya.
Sejak itu aku tidak pernah bertemu Belo.
***
Kutatap lekat-lekat perempuan yang berjalan ke arahku, menggelendot di lengan pria tampan, tinggi tegap itu. Aku semakin yakin ia adalah Belo. Aku ingin cerita padanya bahwa Haji Juki memuji kepintaranku dan terus membantuku kuliah dan lulus dengan nilai-nilai yang bagus.
Citaku-citaku untuk menjadi pegawai pemerintah terwujud. Aku ingin Belo tahu bahwa pekerjaan itu membuatku kaya. Aku punya dua rumah besar, satu apartemen, tiga mobil mewah, deposito, dan lain-lain. Aku yakin mata bundar Belo akan terbelalak ketika tahu isi pundi-pundiku.
Bukan hanya itu, teman-temanku banyak; politisi, pengusaha, dan pengacara. Namaku belakangan ini sedang beredar media cetak dan terus masuk di breaking news televisi. Aku sudah merasa, mungkin hari ini akan menjadi hari besarku. Jika ia rajin menyimak berita tentulah ia tahu betapa populer teman masa kecilnya ini. Bagaimana ya perasaannya?
Kuputuskan aku akan menghampirinya dan menyapanya. Jika benar dia Belo akan kujelaskan tentangku sebelum ia tahu dari orang lain. Tapi perlukah?
''Belo,'' aku pura-pura terkejut saat aku bersimpangan langkah dengannya.
Belo menatapku dengan matanya yang belo, bundar besar dan indah.
Reaksinya kulihat ragu-ragu. ''Maaf, saya kira Anda...'' Kupikir dia bukan Belo atau ia lupa padaku. Jangan-jangan ia tak mau kenal lagi denganku.
Ia meneliti wajahku, dasiku, sepatuku, sekujur tubuhku. Lalu spontan ia memelukku, mengesun kedua pipiku. ''Aku tahu hanya teman-teman masa kecil yang memanggilku Belo. Namun aku ingin yakin bahwa kamu adalah Si Gembala.''
''Masih ingat panggilanku...,'' ucapku.
Belo tersenyum. ''Tentu saja. Oh, ya, ini Angelo suamiku. Kecil dulu aku dan dia suka menggembala bersama,'' cerita Belo pada suaminya.
''Kami tinggal di Italia, bisnis ukiran Jepara. Banyak peminat ukiran di sana...''
Italia? Pantaslah, jika ia tidak tahu bahwa teman masa kecilnya terkenal.
''Senang sekali bertemu kamu. Istrimu, anakmu, kamu, kok tampak kusut-masai?'' Belo memegang kedua pundakku, menatap mataku lekat-lekat.
Aku ingin mengatakan sesuatu pada Belo, tapi mataku menangkap beberapa wartawan televisi dan media cetak bergegas masuk ke restoran. Aku tercekat dibuatnya. Aku tak punya waktu lagi.
''Angelo, bagaimana kalau kita rayakan pertemuan dengan teman lamaku?''
''Sure...'' Angelo menepuk pundakku, mengajakku mengikuti pelayan yang mengantar ke meja.
Aku pura-pura menjajari langkahnya. Sebab aku tahu, langkahku akan terhenti beberapa saat lagi. Derap sepatu itu sudah ada di belakangku, semakin dekat. Lalu seorang petugas polisi berdiri di depanku.
''Pak Hakim, kami memegang surat perintah untuk...''
Wartawan televisi kemudian mengerubutiku, mewawancaraiku. Kulihat Belo menatapku dengan mata bundarnya yang tetap bagus kala ia mendelik marah, kesal, kecewa, dan bahagia. Beberapa saat kemudian kulihat ia mengucek-ucek matanya yang belo dengan mulut terbuka.
Aku yakin sebentar lagi ia akan tahu tentang Si Gembala, yang tak lain adalah hakim yang terungkap menerima suap, dari breaking news di hampir semua statsiun televisi. ***
Oleh : Ida Ahdiah
Rabu, 09 September 2009
Langganan:
Postingan (Atom)