Sekitar lima menit lagi segala perjuangan keluarga untuk menjadikan Andi seorang sarjana akan terwujud. Andi sangat senang karena berhasil lulus kuliah dan mendapat nilai tertinggi dibandingkan semua teman-teman seangkatannya. Keluarga sangat terharu saat tali toga yang dikenakan Andi dimiringkan ke kiri oleh dosennya sebagai tanda kelulusannya. “Saya sangat terharu Pak! Saya tidak menyangka tukang kue seperti saya bisa menyekolahkan anak sampai sarjana.”ungkap ibu dari Andi dengan penuh rasa bangga. “Saya juga Bu! Tidak disangka tukang becak seperti saya berhasil menyekolahkan anak sampai S1!”jawab suami dari wanita paruh baya yang sudah penuh uban di kepalanya itu. Semua rangkaian acara dilalui Andi sekeluarga dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan.
Saat di bus, ketika ingin pulang ke rumah, ayah, ibu, dan Sinta (adik perempuan Andi) tidak henti-hentinya mengucapkan selamat kepadanya. “Lalu bagaimana rencana kakak setelah ini?” tanya adik prempuan Andi. Andi menghela nafas sesaat dan berkata,”Sebenarnya sudah ada perusahaan berskala internasional yang menawarkan pekerjaan kepada kakak dan meminta kakak untuk dating bekerja mulai besok pagi, menurut Ayah, Ibu, dan kamu Sinta, apakah saya harus menerimanya?”dengan cepat Sinta menjawab,”Terima saja Kak! Rezeki jangan ditolak!”ayah pun menjawab,”Kalau menurut Ayah, terima saja asal itu cocok dengan kamu, rezeki jangan ditolak.” Dengan bijaksana ibu juga turut membenarkan perkataan suaminya,”Benar, terima saja kalau itu sesuai dengan apa yang menurut kamu baik.”Andi pun Menjawab,”Baik, kalau begitu akan saya terima.”
“Terima kasih Saudara Andi karena Anda mau bekerja di perusahaan ini. Saya sudah melihat segala prestasi yang Anda miliki selama jenjang kuliah, sehingga tidak perlu lagi saya ragukan kemampuan dan bakat yang Anda miliki. Anda akan saya tempatkan di bagian Marketting sebagai Manager dan tentunya segala fasilitas seperti rumah, mobil, apartemen akan diberikan sebagai penunjang pekerjaan Anda.”sambut salah satu direktur utama yang menerima Andi untuk bekerja di perusahaannya itu. “Terima kasih kembali Pak! Kalau boleh tahu, kapan saya mulai bisa bekerja?”tanya Andi dengan penuh rasa senang dan bahagia. “Mulai hari ini juga bisa langsung dimulai, saya sangat mengharapkan yang terbaik dari Saudara Andi untuk perusahaan ini.” jawab lelaki yang sudah cukup tua namun sangat berkharisma itu. Andi sangat bahagia dan tidak sabar untuk bercerita kepada keluarganya di rumah, “Terima kasih sekali lagi Pak Hendri, saya akan mulai langsung bekerja sekarang, selamat pagi!” Pak Hendri menjawab,”Selamat pagi Saudara Andi!”Andi pun keluar dari ruangan yang sangat luas dan nyaman itu dengan sangat senang dan penasaran ingin merasakan bagaimana suasana bekerja di kantor.
“Tapi bagaimanapun saya harus pergi ke sana karena ini proyek yang sangat besar dan tidak boleh dilewatkan hanya karena masalah sepele seperti itu! Nanti saya akan membelikan oleh-oleh kepada Ibu sebagai hadiah ulang tahun Ibu!” kata Andi kepada ibunya. “Tapi Kak Andi tidak boleh seperti itu! Kakak harusnya tidak boleh lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan Ibu!”sahut Sinta. “Tapi mau bagaimana lagi? Ini proyek yang sangat besar dan kalau sampai berhasil akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan kakak!”sahut Andi lebih keras kepada adiknya itu. ”Ya sudah kalau begitu Ibu tidak apa-apa kok, kamu urus saja pekerjaan kamu dulu, Di.”jawab ibu.
Akhirnya Andi pun pergi ke negeri Paman Sam yang tersohor itu untuk menjalankan bisnisnya yang kian hari kian besar saja. “Thank you Mr. Jefferson for your agreement, I will very happy have a business partner like you, ok now I will go to my office for set anything, good afternoon!”kata Andi untuk menyelesaikan presentasinya di hadapan rekan bisnisnya yang ada di Amerika Serikat. Sesampainya Andi di apartemen nya yang ada di pusat kota negeri adidaya itu dia langsung menyalakan laptop dan mengakses internet untuk melihat keadaan saham yang dimilikinya di bursa perdagangan Indonesia, dan dia sangat senang karena sahamnya naik beberapa persen dan dia tentu akan mendapatkan keuntugan yang sangat besar dari kenaikan sahamnya itu. Dia langsung mendapat telepon dari salah seorang asisten yang membantunya dalam hal mengurusi saham-saham yang dia miliki dan memberitahunya bahwa dia akan mendapat keuntungan sekitar 12-15 miliar rupiah akibat kenaikan sahamnya itu. Andi sangat senang dan berniat untuk mengembangkan sayap perusahaan yang telah menadi miliknya itu akibat usaha kerasnya itu dalam hal komunikasi di Indonesia yaitu di bidang pertelevisian dengan membangun sebuah stasiun televisi. Dia mulai membicarakan hal ini dengan asistennya yang lain yang berkaitan dengan hal ini. “Saya sangat setuju dengan rencana Bapak karena menurut saya jaringan televise ini sangat memberi keuntungan yang besar dan Anda akan cepat balik modal.”kata asistennya itu lewat telepon. “Saya juga berpendapat seperti itu karena sudah banyak orang yang membangun stasiun televisi dan usahanya semakin maju, mjadi saya berminat untuk membangn sebuah stasiun televisi.”jawab Andi. Andi mulai menghubungi satu persatu rekan bisnisnya untuk membantunya dalam mengembangkan salah satu dari proyek barunya itu.
“Bagaimana Pak John? Apakah Anda setuju bekerja sama dengan perusahaan kami?”tanya Andi kepada salah satu rekan bisnisnya yang ada di Indonesia melalui telepon genggamnya. “Baik Pak Andi saya sangat setuju dan senang bekerja sama dengan perusahaan bonavit seperti perusahaan Pak Andi, seminggu lagi saya akan dating ke kantor Anda untuk menandatangani kontrak kerjasama itu.”jawab rekan bisnisnya itu.” Terima sekali Pak John saya akan sangat senang dapat bekerja sama dengan Anda, kalu begitu sekian dulu nanti akan saya hubungi lagi, selamat siang, terima kasih.”jawab Pak John,”Terima kasih kembali Pak Andi.”
“Kak Andi sudah lupa dengan keluarganya sendiri! Dia lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarganya sendiri!”marah Sinta di hadapan orangtuanya. “Padahal inikan hhari ulang tahun Ibu, tapi dia malah sibuk dengan urusan bisnisnya itu!”lanjut Sinta. “Kamu tidak boleh berkata seperti itu kepada Kakak kamu Sinta, Dia seperti itu untuk membiayai kita semua.”ibu memberi nasihat kepada Sinta yang sedang marah kepada Andi.”Tapi dia tidak boleh seperti itu keadaan keluarganya sendiri, harusnya dia lebih mementingkan keluarganya dibandingkan pekerjaannya, dia mementingkan pekerjaan bahkan sampai tidak peduli terhadap hari ulang tahun Ibu yang tinggal dua hari lagi!”marah Sinta. ”Sudahlah Sin, jangan seperti itu, mungkin Kak Andi sedang benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Lebih baik sekarang kita siap-siap untuk pesta ulang tahun Ibu.”kata ayah sambil menasihati Sinta. Lalu mereka sekeluarga pun pergi ke supermarket dekat rumah untuk membeli segala keperluan pesta ulang tahun ibu yang rencananya diadakan secara sederhana. Mereka pun belanja segala keperluan dengan perasaan senang tidak sabar menunggu hari ulang tahun ibunya. Mereka membeli makanan, minuman ringan, dan beberapa kue-kue kecil, dan juga mereka membeli kue ulang tahun yang besar.”Kue ini sepertinya bagus dan enak rasanya beli yang ini saja Bu.”Sinta berpendapat. “Sudahlah jangan beli kue yang mahal seperti itu, buang-buang uang saja, kita rayakan secara sederhana saja, jangan boros-boros lah, Kak Andi susah payah mencari uang masa kita menghambur-hamburkan begitu saja.”ibu memberi nasihat. “Tidak apa-apa Bu, sekali-kali kta harus merayakan karena Tuhan masih memberikan umur panjang kepada kita dan yang paling penting kita merayakan ulang tahun ini dengan niat bersyukur bukan dengan niat berfoya-foya.”ungkap ayah dengan bijaksana. “Benar Bu, kita harus merayakannya, lagipula ini hanya setahun sekali.”tambah Sinta. Akhirnya ibu pun mau membeli kue ulang tahun itu dan setelah itu mereka pulang dengan perasaan yang senang dan penuh rasa syukur.
“Ok Mr.Steve I will call you later about this project, I hope you will accept my contract, Good Afternoon.”kata Andi kepada rekan bisnisnya yang ada di Amerika. “Hari masih siang dan saya masih mempunyai beberapa pekerjaan yang masih harus saya selesaikan mengenai proyek pembangunan stasiun televisi yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Kalau begitu ayo kita ke kantor salah satu rekan saya yang di New York untuk membicarakan tentang segala peralatan yang diperlukan untuk membangun stasiun televisi.”kata Andi kepada asistennya yang ada di sebelahnya waktu itu karena sedang meminta tanda tangan proyek lain lagi, dan kebetulan asistennya itu orang Indonesia. ”Baik Pak, segalanya akan saya siapkan.”jawab asistennya itu. Setelah semua urusan di sana selesai mereka pun pulang ke apartemen masing-masing yang sudah disediakan oleh pihak kantor. Keesokan harinya atau tepat satu hari sebelum hari ulang tahun ibunya, Andi masih saja sibuk dengan bisnisnya itu. “Ayo kita ke Mr.Walter untuk membicarakan mengenai rapat yang belum selesai kemarin.”perintah Andi kepada asistennya. Setelah itu mereka langsung pergi ke tempat yang telah disepakati dan melangsungkan rapat sampai kurang lebih 3 jam. Setelah rapat iitu selesai, mereka langsung pergi ke sebuah gedung pemancar televisi untuk mempelajari bagaimana sebaiknya sebuah stasiun televisi dibuat dan dirancang. Mereka menghabiskan waktu 3 jam lebih untuk mengamati berbagai hal yang ada di stasiun televise itu, maklum saja karena stasiun televisi itu merupakan salah satu yang terbaik di amerika. Setelah dari sana mereka langsung pulang menuju ke apartemen masing-masing, tetapi di tengah perjalanan, ada telepon dari adik asistennya yang mengatakan ibu asistennya itu telah meninggal tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, asistennya itu sangat kaget dan tidak percaya, karena tadi pagi dia masih sempat ngobrol dengan ibunya dan berjanji untuk pulang membelikan oleh-oleh. Asistennya itu pun langsung meminta izin pulang ke Indonesia sore itu juga kepada Andi, dan tentunya Andi mengizinkannya.
Saat tiba di apartemennya Andi teringat segala hal tentang ibunya dulu. Dia berpikir bahwa ibu, ayah dan Sinta telah banyak berkorban baginya, terutama ibunya yang rela berjualan kue keliling setiap hari hanya untuk membiayainya sekolah sampai sarjana, ibunya setiap hari bangun pagi-pagi sekali sekitar pukul 03.00 untuk membuat kue yang pastel, lumpia, risol, yang kemudian akan dijajakan keliling kampong, walau harus menahan rasa lelah dan malu tetapi dia tetap melakukannya dengan ikhlas. Bapaknya juga sangat bersusah payah mencari nafkah dengan keluarganya, Andi masih ingat waktu itu dia masih kelas 3 smp, ayahnya sedang sakit parah dan hari sedang sangat panas, tetapi dia tetap rela menarik becaknya itu untuk mencari uang untuk keluarganya. Sinta juga telah banyak berkorban untuknya, waktu itu Sinta bersusah payah mengumpulkan uang untuk membeli sepeda supaya bisa pergi ke sekolah dengan lebih mudah, maklum saja rumah mereka di kampung, jadi untuk pergi ke sekolah perlu waktu yang lama dan tenaga yang banyak, jadi sepeda itu sangat diperlukan Sinta, tetapi karena pada waktu itu ada buku yang harus dibeli Andi, Sinta merelakan uangnya untuk dipakai oleh Andi dan dia rela tetap berjalan kaki ke sekolahnya yang jauh itu. Dia sangat sedih mengingat semua perlakuannya kepada keluarganya itu, padahal keluarganya sudah sangat banyak berkorban baginya. Dia merasa sangat berdosa karena telah menelantarkan keluarganya hanya karena urusan pekerjaan duniawi, oleh karena itu dia pun berniat untuk mempercepat kepulangannya ke Indonesia yang tadinya seminggu lagi menjadi besok pagi. Saat sedang istirahat dan merenungi semua kesalahannya itu, ada telepon dari Indonesia yang suara penelponnya dikenali oleh Andi, dan itu ternyata adalah Sinta yang sedang menangis. “Kak, Ibu terluka parah karena tertabrak mobil ketika ingin pulang ke rumah dari supermarket sehabis belanja keperluan untuk ulang tahunnya. Hik.hik.hik…. Bagaimana ini Kak? Kakak bisa pulang tidak?”ungkap Sinta kepada Andi melalui telepon dengan penuh kepanikan. “Apa?!?! Lalu bagaimana keadaan Ibu? Apa dia sudah membaik? Bagaiman kata dokter?”tanya andi dengan perasaan yang sangat cemas. Tiba-tiba teleponnya terputus dan ketika Andi mencoba menghubungi lagi sama sekali tidak tesambung. Andi menjadi sangat cemas dan merasa bersalah, dia berpikir bahwa semua itu terjadi karena kesalahannya. Dia seketika itu juga langsung berlari keluar apartemennya dan mengendarai mobil ke bandara untuk pulang ke Indonesia hari itu juga.
Di pesawat, dia sangat khawatir dan sangat cemas, dia takut kalau-kalau terjadi sesuatu kepada ibunya dan apalagi kalau sampai ibunya meninggal. Andi berpikir bahwa dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai ibunya meninggal. Selama di pesawat dia terus-menerus memikirkan ibunya sampai-sampai dia tertidur karena kelelahan. “Kenapa ini? Kenapa semua memakai baju hitam dan terdengar suara tangisan yang sangat menyakitkan telinga?”tanya Andi dalam hatinya. “Kak Andi kenapa terlambat datang! Bahkan sampai ke pemakaman Ibu pun Kakak terlambat datang! Kakak benar-benar tidak punya hati! Sesaat sebelum Ibu pergi, Ibu terus-menerus memanggil nama Kakak, dia sangat rindu kepada Kakak, tetapi datang saja Kakak tidak mau!” seru Sinta sambil menangis terisak-isak di depan batu nisan ibunya. “Maafkan Kakak, Kakak benar-benar menyesal atas semuanya itu, kalau tahu begini saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Ibu!!!! Hikhikhik…….”teriak Andi sambil menangis sekencang-kencangnya.. Dan tiba-tiba Andi terbangun dari tidurnya, dia sangat senang karena itu semua hanyalah mimpi. Ternyata karena terlalu lelah, dia tak sadar bahwa dia telah tertidur selama 15 jam lebih bahkan sampai pesawat yang ditumpanginya sudah hamper tiba di bandara Soekarno-Hatta. “Bagi semua penumpang, harap mengenakan sabuk keselamatan karena sebentar lagi pesawat akan segera mendarat.”pramugari memberi tahu para penumpang yang ada di pesawat itu.
Seturunnya dari pesawat, Andi langsung naik ke taksi yang sudah menunggu penumpang di depan bandara. Setibanya di depan gang rumahnya, terdapat bendera kuning yang digantung menandakan ada yang meninggal di sekitar komplek itu. Hati Andi semakin cemas saja karena melihat hal itu. Ketika turun di rumahnya Andi melihat rumahnya kosong tanpa ada seorang pun yang menjaga. Andi sangat bingung dan berusaha mencari tahu ke tetangganya dan kemudian tetangganya mengatakan bahwa ibunya kemarin dibawa ke rumah sakit karena tertabrak mobil, tetapi dia kurang tahu benar oleh karena tetangganya itu ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkannya, jadi dia terpaksa pergi meninggalkan ibunya setelah mengantar ke rumah sakit bersama keluarganya. Setelah menanyakan dimana rumah sakit tempat ibunya dirawat, Andi langsung pergi naik taksi tadi menuju ke rumah sakit itu. Setibanya di rumah sakit itu, dia langsung mencari kamar 302 tempat ibunya dirawat yang diketahuinya dari resepsionis rumah sakit itu. Tetapi setelah tiba di ruangan itu, ,dia hanya mendapati ruangan kosong tanpa pasien. Dia sangat kaget, dalam hatinya dia berpikir apakah ibunya telah meninggal sehingga ruangan itu dikosongkan. Dia sangat kebingungan karena semua dokter dan suster yang dia tanyakan tidak tahu dimana ibunya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari ke semua tempat, dan setelah sangat lelah, dia pun tanpa sadar bilang kepada supir taksi yang dari tadi menemaninya mencari ibunya itu untuk pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah Andi hanya mendapati rumah yang sangat besar, luas, dan juga gelap tanpa satupun penghuni. Andi sudah mulai putus asa, dia hanya duduk di depan teras rumahnya yang sangat besar itu, merenungi nasib keluarganya yang sekarang tidak dia ketahui itu. Sampai suatu ketika ada seorang tetangganya yang mengatakan keluarga Andi mengatakan kepadanya akan pulang ke rumahnya yang dulu di kampung. Andi seketika itu juga langsung naik taksi yang dari tadi masih setia menemaninya itu ke rumah mereka yang dulu yang ada di kampung.
“Ibu, Ayah, Sinta, apa kalian ada di dalam?”teriak Andi sambil masuk ke dalam rumah tua itu. Dia mencari apakah ada orang di rumah itu, dan yang dia dapati hanyalah rumah tua yang kosong. Andi berpikir apakah dia telah dibohongi oleh tetangganya itu atau tidak. Andi sudah sangat putus asa. “Tenang Pak, jangan khawatir, pasti mereka baik-baik saja.”supir taksi tadi mencoba menenangkan Andi yang sedang benar-benar panik. Andi mecoba bertanya kepada semua tetangganya yang ada di sana, tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaan keluarganya. “Saya sudah tidak pernah melihat keluargamu Andi sejak kalian semua pindah dari kampung ini ke kota.” kata seorang tetangganya di kampung itu. Andi sudah sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Namun, di saat puncak keputusasaannya, Andi merasa dipanggil oleh seseorang di belakangnya. “Di, kamu sudah pulang rupanya.”Andi sangat kaget mendengar suara itu. Dan sesaat dia sadar bahwa dia sangat mengenali suara itu, dan itu ternyata adalah suara ibunya. Andi bukan main senangnya, dia tidak henti-hentinya meminta maaf kepada ibu, bapak, dan Sinta karena telah tidak peduli kepada mereka dan lebih mementingkan pekerjaannya daripada keluarganya. “Kakak benar-benar meminta maaf kepada kalian semua, karena selama ini Kakak tidak memperhatikan kalian semua dengan baik, saya sibuk dengan pekerjaan saya sendiri, saya benar-benar menyesal, maafkan saya……..”ungkap Andi di depan keluarganya. “Sudahlah Andi jangan dipikirkan lagi, semua sudah Ibu lupakan, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu.”ibu menanggapi dengan penuh kebijaksanaan. “Iya Andi kamu tidak perlu seperti itu, kami sekeluarga sangat menyayangimu apapun yang terjadi kepadamu.”tambah ayah. “Betul Kak, kami akan tetap sayang kepada Kakak apapun yang Kakak lakukan.”lanjut Sinta. “Terima kasih ya, kalian semua mau memaafkan saya. Ngomong-ngomong apa Ibu sudah sembuh dari sakit, kata Sinta Ibu terluka parah karena tertabrak mobil saat pulang dari supermarket, tadi saya cari ke rumah sakit, Ibu tidak ada”tanya Andi penasaran. “Iya ibumu memang sakit tetapi tidak terlalu parah, Sinta tidak melihat secara langsung jadi dia tidak tahu kejadiannya, waktu itu Ibu terserempet mobil saat ingin menyeberang jalan dengan Bapak, karena Bapak sangat panik, Bapak langsung membawa Ibu ke rumah sakit, dan Sinta langsung menelpon kamu. Dan disaat seperti itu adikmu ceroboh menjatuhkan handphonenya di kolam rumah sakit itu.”bapak mencoba menjelaskan. “Oh begitu ceritanya, dasar kamu Sinta ceroboh sekali, hehehe…”Andi menanggapi. Akhirnya mereka semua masuk ke rumah dan merayakan ulang tahun ibu dengan sederhana namun hikmat. “Ini adalah hari ulang tahun yang paling membahagiakan dalam hidup Ibu.”kata ibu dengan penuh rasa kebahagiaan.
Setahun kemudian stasiun televisi yang Andi bangun sudah selesai dan akan diadakan pengenalan pertama dihadapan umum melalui para wartawan yang sudah diundang. “Tv keluarga ini saya persembahkan kepada keluarga saya yang sangat saya cintai, saya sangat berharap stasiun tv ini bisa mempererat hubungan semua keluarga yang ada di seluruh dunia.”ungkap Andi di pengenalan pertama stasiun tv nya itu. Saat melihat itu, hati keluarga Andi sangat senang dan merasakan bahwa keluarganya telah menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia seperti sebelumnya.
Oleh : SIR
Ini Blog Milik INDONESIA
Sekarang Waktu Sedang Menunjukkan Pukul
Jenis Cerpen yang Kami Miliki
- Cerpen Cinta (2)
- Cerpen Humor (2)
- Cerpen Kehidupan (4)
- Cerpen Putu Wijaya (1)
- Cerpen Sains (1)
- Cerpen Sehari-Hari (2)
Silahkan Mencari Cerpen yang Anda Inginkan
Website-Website Bermanfaat
Hubungi Kami
Kirimkan Kritik Dan Saran Serta Karya Tulis Terbaik Anda Kepada Kami Melalui Email :
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 September 2009
Minggu, 20 September 2009
Sepatu
Hujan pertama akhirnya jatuh juga. Selepas musim kemarau yang terlampau panjang, hujan pertama selalu disambut di kampung kami dengan pesta.
Ketika hujan mulai menderas, anak-anak Kang Soleh kulihat segera berlarian keluar, bertelanjang dada. Teriakan-teriakan kegembiraan mereka, gemuruh curahan air dari langit dan gelegar petir, bercengkerama sahut menyahut di tegalan depan. Ketika hujan mereda, mereka pulang dengan bibir membiru dan badan menggigil bergetar. Tapi, mata mereka memancarkan kegembiraan.
Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan.
Sejak masih gerimis, Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan pertama, ia selalu membersihkan gentonggentong air kami yang kerontang selama kemarau.
Aku sendiri, pada setiap hujan pertama seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk mencangkung di depan jendela depan. Membuka hidung lebar-lebar membaui tanah pelataran yang terperawani tetes demi tetes air hujan pembukaan. Menghanyutkan diri dalam aroma legit bau tanah tersiram air. Ah, Sembilan bulan sudah kurindukan bau ini.
Datangnya musim penghujan membuat kampong kami siuman dari mati suri panjang. Sejak sungai Cipamingkis ditambang batunya, digali pasirnya, dan akhirnya mati, sawah-sawah di kampong kami kehilangan tempat menyusu di musim kering. Semua sawah menjadi tadah hujan saja.Maka, kemarau adalah bencana. Berita duka yang tak sudi kami dengar tapi selalu saja tiba.
Di setiap kemarau, sawah-sawah mengering, merekah, retak terbelah-belah. Ketika kemarau berlarut-larut tak berujung, kampung kami kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga hujan bergegas datang dan membunuh kemarau laknat itu segera.
***
Bagi guru sepertiku, musim penghujan sebetulnya tak punya terlalu banyak arti. Bahkan, selalu saja ia menghadiahiku kerepotan-kerepotan baru. Setiap hari, pergi dari rumah ke SD Inpres di seberang bukit itu, aku mesti menggulung celana panjangku tinggi-tinggi, tak membiarkan lidah air berlumpur menjilat celanaku. Celana layak satu-satunya.
Kedua tanganku pun dibuat sibuk. Tangan kanan menjinjing tas. Tangan kiri, yang terbiasa menganggur, punya pekerjaan baru: menjinjing sandal. Aku, bak pemain sirkus, mesti menjaga keseimbangan di sepanjang pematang, bersiasat untuk tak tergelincir tercebur ke sawah berair berlumput-lumpur.
Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau ruang guru, aku tentu saja mesti ke parit di belakang gedung sekolah itu. Mencuci kaki. Menurunkan gulungan celana. Lalu menyematkan sandal ke kedua kakiku yang kuyup. Betapa merepotkannya jika aku bersepatu.
Ketika sol sepatuku, sepatu terakhirku, jebol di tengah kemarau tahun lalu, aku sempat meratapinya. Tapi, ketika musim penghujan seperti ini datang, segera kutahu bahwa barang mewah semacam itu kadang kala tak punya guna. Di pasar kecamatan, sepatu termurah saja harganya 20 ribu!
Bersepatu pergi pulang mengajar di musim penghujan seperti ini hanya membikin-bikin kerepotan yang tak perlu. Semacam kesia-siaan. Bahkan penyiksaan diri. Tentu cerita bisa berbeda jika saja ada sepeda. Pematang penuh jebakan lumpur itu bisa kuhindari dengan sedikit memutar menyusuri jalan desa.
Tapi, sejak kutahu bahwa sepeda bekas yang butut saja harganya lima puluh ribu perak, aku berhenti memikirkannya. Untungnya kepala sekolah tak mengharuskan guru honorer, guru bantu, sepertiku bersepatu. Akupun bisa mengajak sandal lili-ku bertemu 47 murid kelas enam yang bertumpuk di kelas paling ujung kiri itu. Setiap hari. Mereka benar-benar bertumpuk di ruang kelas darurat yang sempit itu.
Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan. Memasukinya membuatku bertemu mata-mata yang haus dan berharap tetapi juga kuyu dihantam kemiskinan. Aku selalu bahagia setiap kali kekuyuan itu lenyap sesaat tertelan kegembiraan menemukan hal-hal baru dari pelajaran kelas. Dari hari ke hari.
Dari pukul 7:15 pagi hingga Dzuhur berlalu dan Asar hampir menjemput. Selalu saja terbit rasa senang melihat mata-mata itu menjadi sedikit berkilat setiap kali kukatakan, “Negara kita Indonesia, besok akan menjadi lebih baik jika kita warganya bisa memelihara nurani kita. Begitu juga Sukamanah, desa kita.” Kadang-kadang anak-anak itu merepotkanku dengan pertanyaan mereka. Mereka kudorong agar tak berpuas diri sekadar lulus SD dan lanjut bersekolah ke SMP di kota kecamatan. Hardi, salah seorang yang terpandai pun bertanya, mengutip kata-kata Ayahnya. “Untuk apa melanjutkan sekolah dan meninggalkan sawah-sawah kami? Bukankah sekolah tinggi hanya akan membikin kami membenci sawah tapi juga tak menyediakan pekerjaan lain, lalu membikin kita hanya bisa luntang-lantung menyusahkan orang tua seperti anak-anak kepala dusun itu?”
Maka akupun menjawabnya. “Bersekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan, apalagi membenci sawah. Kita bisa bersekolah tinggi sambil tetap mencintai kampung kita, sawah-sawah kita. Bersekolah itu untuk membuat kita tak jadi orang-orang yang tak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tak mendengarkan kebaikan walaupun memiliki telinga, tak membela kebenaran walaupun memiliki hati, tak pernah terharu dan tak bersemangat.”
“Pak Sobarudin, bisa ke kantor saya sebentar?” Suara Pak Dudung, kepala sekolah, tiba-tiba menyeruput telingaku dari arah punggung.
“Ada undangan penting dari kabupaten,” katanya lagi, sebelum sempat kukeluarkan sepatah katapun.
“O ya…” Aku membuntutinya.
“Ini undangan untuk Pak Sobar. Semua guru honorer se-kecamatan dikumpulkan bertemu Bupati minggu depan.”
Aku segera membukanya. Beberapa kata segera berpindah dari kertas itu ke kepalaku. Minggu. 15 November. Siang. Aula Kecamatan. Bupati. Realisasi Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti.
...Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan...
***
Hari Minggu ini sebenarnya sama saja seperti hari-hari Minggu lainnya. Ia terasa berbeda hanya lantaran ini hari Minggu pertama di musim penghujan. Kampung kami menjadi lebih sibuk. Hampir semua rumah memboyong seluruh isinya ke sawah, memulai upacara hidup yang itu-itu juga. Bercocok tanam. Mengutang pupuk ke koperasi Desa. Memimpikan panen padahal sawah baru saja mulai digarap. Menghitung kerugian yang pasti dating karena ongkos bersawah selalu saja lebih tinggi dari harga jual padi. Menyisakan hasil panen untuk bertahan hidup ala kadarnya selama kemarau yang belum-belum sudah mengintip mengendap hendak kembali.
Siang ini aku harus ke kecamatan, berjalan kaki tiga kilo ke arah barat daya. Sedari pagi buta, ketika matahari masih terbungkus kabut, pasti sudah banyak orang mengepung kantor kecamatan, untuk melihat wajah Pak Bupati yang katanya masih muda dan rajin membagi senyum itu.
“Kang. Jangan lupa mampir ke rumah Bi Mumun.” Anah mengingatkanku ketika setengah badanku
sudah tertelan pintu, hendak pergi.
“Ya.”
Sepulang dari kecamatan Aku memang mesti mampir ke pabrik tempe milik istri almarhum pamanku itu. Menjemput kulit kacang kedelai. ...amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku...
Anah biasa mencampurnya dengan terigu, bawang putih, garam dan sedikit merica, lalu menyulapnya menjadi makanan penganan bahkan kadang-kadang lauk-pauk utama. Dan kami menyukainya. Apalagi jika tersedia juga cobek favorit kami. Cobek bohong. Penampilannya memang seperti cobek tapi sebetulnya bukan juga. Ia hanya kuah belaka, tanpa jengkol atau ikan lele, atau apapun. Di sana hanya ada cabe merah yang panjang menjuntai-juntai mengundang gigitan. Orang-orang di kampung kami pun menyebutnya cobek bohong. Menu semacam itu adalah kemewahan besar di rumah kami, apalagi di masa-masa darurat.
Tapi hidup kami selalu saja darurat. Selepas SPG, lima tahun lalu, tak ada pekerjaan menjemputku. Semestinya aku jadi guru SD. Tapi itulah. Setiap tahun, selalu saja kemestian itu terganjal ujian penerimaan guru. Aku tak pernah lulus. Bukan sulitnya soal ujian yang sebenarnya menjadi masalahku, tapi selalu saja aku tak mampu menyediakan amplop, dengan isi mesti di atas satu juta rupiah, untuk Kepala Kantor Departemen. Kalau saja amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku. Tapi, dari mana kudapat uang sebanyak itu? Melihatnya saja aku tak pernah.
Untungnya, tenagaku masih terpakai di kampung. Membantu Bi Mumun di pabrik tempe. Membantu panen Kang Soleh dan tetangga-tetangga dekat lainnya. Membantu menjagal sapi menjelang Hari Raya Kurban. Membantu mencukur rumput kuburan desa setiap menjelang bulan puasa. Mengambil air dari sumur tua yang tak pernah kering di balik bukit untuk kepala dusun, tiap kali kemarau menjadi-jadi. Mengecat dan membetulkan pagar masjid menjelang Lebaran.
Tenagaku tak selalu dihargai dengan uang. Kadang-kadang diganjar hasil cocok-tanam, padi, atau makanan. Tapi semuanya terasa sangat membantu. Adapun satu-satunya sumber penghasilan tetapku adalah honor sebagai guru wiyata bakti alias guru honorer atau guru Bantu itu. Besarnya 75 ribu setiap bulan. Uang itu jauh dari cukup dan selalu habis untuk melunasi utang-utang belanja dapur kami ke warung Ceu Nenden di pertigaan jalan desa itu.
Untungnya, jodohku adalah Anah yang tak pernah menuntut. Sejak kunikahi empat tahun lalu, tak sekalipun Anah mengeluhkan keadaan kami. Di tengah kesusahan yang terus menguntit kami, Anah selalu melayaniku dengan baik. Siang dan malam hari.
Anah lah yang justru mengajariku untuk selalu bersyukur atas apapun yang kami peroleh. Mengajari tetap bersyukur sekalipun sampai saat ini kami belum juga beroleh momongan. Kami tak pernah membebani Tuhan dengan macam-macam tuntutan. Cukup saja lah kami tahu bahwa Tuhan tak pernah tidur. Pertemuan di aula kecamatan hari ini sebetulnya bukan yang pertama. Dua tahun lalu, semua guru honorer juga pernah dikumpulkan. Di aula sama. Hanya saja, waktu itu kami tak seberuntung sekarang. Dulu, yang yang datang bukan Bupati tetapi Kakandep dari kabupaten.
Selepas pertemuan itu, rasa syukurku bertambahtambah. Sejumlah guru honorer tampaknya memang lebih beruntung dariku. Mereka bias menambah penghasilan dengan menarik ojek di pasar kecamatan. Ada juga yang membuka warung atau kios koran, komik-komik agama dan tekateki silang. Tapi jauh lebih banyak yang bernasib lebih buruk. Pak Kosim dari desa di ujung utara itu hanya digaji 25 ribu per bulan. Ibu Eti, guru di tetangga desaku, tak punya gaji sama sekali. Ia hanya bisa menunggu hadiah hasil panen dari wali murid di kelasnya. Padahal, panen sering diganggu hama. Pak Komarudin, yang ternyata hanya terpisah tiga kampung denganku, digaji 25 ribu ditambah uang BP3 sebesar 1.500 rupiah dari murid-murid di kelasnya. Muridnya hanya ada 12 orang. Miskin semua. Mereka lebih sering menunggak ketimbang melunasinya. Di pertemuan dua tahun lalu itu pula kukenal Pak Asep Saepudin yang kepandaian bicaranya mengingatkanku pada Kiai Ishak, khatib masjid kecamatan. Ia guru di kota kecamatan. Pendiri dan pemimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Anak Bangsa (LSMPAB) yang katanya berusaha mengurusi nasib guru-guru bantu seperti kami. Dari Pak Asep pula aku tahu betapa pemerintah memang kekurangan guru SD dan membutuhkan kami. Propinsi kami saja, katanya, kekurangan 33.768 guru SD. Sebanyak 17.877 di antaranya adalah guru kelas. Maka, lagi-lagi menurut Pak Asep, jika guru-guru honorer di seluruh Jawa Barat berhenti, hampir 18 ribu kelas akan terlantar.
“Kami para guru honorer bukanlah orang-orang yang disumbang pemerintah. Kamilah yang membantu pemerintah menyelenggarakan pendidikan di tingkat dasar. Kalau tak ada kami, pemerintah kerepotan. Jadi, bukan kami yang harus berterima kasih, tetapi pemerintahlah yang semestinya berterima kasih dan memperbaiki nasib kami,” begitulah antara lain yang dikatakan Pak Asep di pertemuan itu. Hadirin bersorak bertepuk tangan. Wajah Pak Kakandep kulihat memerah delima.
Boleh jadi, suara Pak Asep sampai juga ke telinga Pak Bupati. Buktinya hari ini Pak Bupati datang dan akan mengurus “Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti.” Seperti tertulis di undangan.
Benar saja. Kantor kecamatan seperti gula dikepung semut. Halaman luarnya disesaki orang-orang. Mereka benar-benar ingin melihat wajah Pak Bupati yang murah senyum itu rupanya.Setelah kulipat-lipat badan, menyusup di tengah orang-orang yang berkerumun sambil bertukar keringat dengan mereka, akhirnya sampai juga aku di depan aula itu. Kuacungkan kertasundangan memberi tahu bahwa aku guru honorer yang berhak masuk aula.
“Nah… ini ada satu lagi.” Seseorang yang berseragam coklat muda tiba-tiba setengah menghardikku sambil menunjuk-nunjuk ke arah sandal dan kakiku, membuatku bingung tak mengerti.
“Mari. Saudara harus duduk di ruang terpisah. Tidak di aula. Ini instruksi Bapak-Bapak di kantor kabupaten. Yang masuk aula harus pakai sepatu. Untuk menghormati Pak Bupati!” Aku mulai mengerti. Semacam amarah beranakpinak di dadaku. Tak boleh masuk aula hanya karena tak bersepatu? Apa yang salah dengan sandal lili yang baru kucuci tadi pagi ini? Sepatu? Menghormati Bupati?
Tapi mata tak bersahabat orang-orang berseragam coklat muda itu dengan cepat menggugurkan anak-pinak kemarahanku. Aku pun membuntuti mereka. Masuk ke ruang di sebelah aula. Di sana sudah ada beberapa puluh orang lainnya. Semuanya tak bersepatu. Moncong pengeras suara mengintip dari jendela, memelototi kami. Aku tak sendiri. Kutemukan juga beberapa wajah tak senang. Menahan marah.
Duh Anah…. Maafkan aku. Dari sini, aku tak bisa melihat wajah Pak Bupati. Aku tak bisa menjaga janjiku untuk sepulang nanti bercerita apakah benar Pak Bupati muda itu memang selalu tersenyum.
***
“Syukurlah Kang. Syukur.”
Hanya itu yang keluar dari mulut kecil Anah ketika kuceritakan apa yang kudengar dari Pak Bupati di pertemuan itu. Pak Bupati berjanji memperbaiki nasib guru-guru honorer di kecamatan kami yang ternyata jumlahnya makin banyak. Ratusan. Pak Bupati akan segera melakukan sesuatu. Bertahap. Sesuai kemampuan kabupaten. Untuk memperbaiki kesejahteraan guru-guru honorer.
Dimulai dari yang penting. Hampir setiap hari kampung kami diguyur hujan. Pematang sawah menuju sekolah itu pun makin menuntut ketrampilan-ketrampilan sirkusku. Sudah kubatalkan pula rencana memperbaiki sepatu jebolku ke pasar kecamatan. Sepasang sepatu, barang mewah yang tak berguna dan merepotkan itu, kini tercampak bersama timbunan sampah di kebun belakang. Tali keduanya saling terikat. Teronggok. Seperti sepasang anak kembar yang mati bunuh diri.
***
Dua minggu sudah pertemuan dengan Pak Bupati itu lewat. Hari ini, langit di atas kampung kami bolong. Air pun jatuh tercurah deras. Petir dan angin besar mengecewakan anak-anak Kang Soleh. Rengekan mereka untuk bermain bersama hujan, bertepuk sebelah tangan. Kulihat mereka duduk-duduk di beranda, memandangi hujan dengan penuh hasrat.
Satu sosok muncul dari belokan jalan desa. Setengah berlari. Setangkai daun pisang memayungi kepalanya — kurasa, dengan percuma. Ia tetap kuyup juga. Petir dan angina seperti mendorong-dorongnya untuk bergegas.
Badan kuyupnya dibungkukkan, sepertinya melindungi sesuatu di dadanya. Sosok itu mendekat. Ia tak menyusuri jalan desa yang menikung ke kiri. Tapi ke rumahku. Persis ke arahku. Ternyata Mang Maman, penjaga SD Inpresku.
“Silakan masuk Mang. Aduh. Hujan besar begini kok memaksakan diri datang ke sini.”
“Saya diminta Pak Dudung mengantar kiriman untuk Pak Sobar. Katanya penting. Dari Pak Bupati. Ada juga suratnya.”
Kubiarkan Kang Maman berdiri di pintu. Badannya kuyup. Seperti kerupuk tercelup kuah sayur. Kuambil kardus itu. Kubuka suratnya. Benar. Dari Pak Bupati. Pendek saja. Dari atas kertas, kata-kata berat itu berpindah ke kepalaku. Wujud kepedulian pemerintah. Usaha nyata membantu harkat guru honorer. Menaikkan citra, wibawa, dan martabat Guru Wiyata Bakti. Untuk masa depan dunia pendidikan yang lebih baik.
Maka, kubuka kardus itu. Isinya: sepasangsepatu.
Oleh : Eep Saefulloh Fatah
Ketika hujan mulai menderas, anak-anak Kang Soleh kulihat segera berlarian keluar, bertelanjang dada. Teriakan-teriakan kegembiraan mereka, gemuruh curahan air dari langit dan gelegar petir, bercengkerama sahut menyahut di tegalan depan. Ketika hujan mereda, mereka pulang dengan bibir membiru dan badan menggigil bergetar. Tapi, mata mereka memancarkan kegembiraan.
Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan.
Sejak masih gerimis, Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan pertama, ia selalu membersihkan gentonggentong air kami yang kerontang selama kemarau.
Aku sendiri, pada setiap hujan pertama seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk mencangkung di depan jendela depan. Membuka hidung lebar-lebar membaui tanah pelataran yang terperawani tetes demi tetes air hujan pembukaan. Menghanyutkan diri dalam aroma legit bau tanah tersiram air. Ah, Sembilan bulan sudah kurindukan bau ini.
Datangnya musim penghujan membuat kampong kami siuman dari mati suri panjang. Sejak sungai Cipamingkis ditambang batunya, digali pasirnya, dan akhirnya mati, sawah-sawah di kampong kami kehilangan tempat menyusu di musim kering. Semua sawah menjadi tadah hujan saja.Maka, kemarau adalah bencana. Berita duka yang tak sudi kami dengar tapi selalu saja tiba.
Di setiap kemarau, sawah-sawah mengering, merekah, retak terbelah-belah. Ketika kemarau berlarut-larut tak berujung, kampung kami kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga hujan bergegas datang dan membunuh kemarau laknat itu segera.
***
Bagi guru sepertiku, musim penghujan sebetulnya tak punya terlalu banyak arti. Bahkan, selalu saja ia menghadiahiku kerepotan-kerepotan baru. Setiap hari, pergi dari rumah ke SD Inpres di seberang bukit itu, aku mesti menggulung celana panjangku tinggi-tinggi, tak membiarkan lidah air berlumpur menjilat celanaku. Celana layak satu-satunya.
Kedua tanganku pun dibuat sibuk. Tangan kanan menjinjing tas. Tangan kiri, yang terbiasa menganggur, punya pekerjaan baru: menjinjing sandal. Aku, bak pemain sirkus, mesti menjaga keseimbangan di sepanjang pematang, bersiasat untuk tak tergelincir tercebur ke sawah berair berlumput-lumpur.
Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau ruang guru, aku tentu saja mesti ke parit di belakang gedung sekolah itu. Mencuci kaki. Menurunkan gulungan celana. Lalu menyematkan sandal ke kedua kakiku yang kuyup. Betapa merepotkannya jika aku bersepatu.
Ketika sol sepatuku, sepatu terakhirku, jebol di tengah kemarau tahun lalu, aku sempat meratapinya. Tapi, ketika musim penghujan seperti ini datang, segera kutahu bahwa barang mewah semacam itu kadang kala tak punya guna. Di pasar kecamatan, sepatu termurah saja harganya 20 ribu!
Bersepatu pergi pulang mengajar di musim penghujan seperti ini hanya membikin-bikin kerepotan yang tak perlu. Semacam kesia-siaan. Bahkan penyiksaan diri. Tentu cerita bisa berbeda jika saja ada sepeda. Pematang penuh jebakan lumpur itu bisa kuhindari dengan sedikit memutar menyusuri jalan desa.
Tapi, sejak kutahu bahwa sepeda bekas yang butut saja harganya lima puluh ribu perak, aku berhenti memikirkannya. Untungnya kepala sekolah tak mengharuskan guru honorer, guru bantu, sepertiku bersepatu. Akupun bisa mengajak sandal lili-ku bertemu 47 murid kelas enam yang bertumpuk di kelas paling ujung kiri itu. Setiap hari. Mereka benar-benar bertumpuk di ruang kelas darurat yang sempit itu.
Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan. Memasukinya membuatku bertemu mata-mata yang haus dan berharap tetapi juga kuyu dihantam kemiskinan. Aku selalu bahagia setiap kali kekuyuan itu lenyap sesaat tertelan kegembiraan menemukan hal-hal baru dari pelajaran kelas. Dari hari ke hari.
Dari pukul 7:15 pagi hingga Dzuhur berlalu dan Asar hampir menjemput. Selalu saja terbit rasa senang melihat mata-mata itu menjadi sedikit berkilat setiap kali kukatakan, “Negara kita Indonesia, besok akan menjadi lebih baik jika kita warganya bisa memelihara nurani kita. Begitu juga Sukamanah, desa kita.” Kadang-kadang anak-anak itu merepotkanku dengan pertanyaan mereka. Mereka kudorong agar tak berpuas diri sekadar lulus SD dan lanjut bersekolah ke SMP di kota kecamatan. Hardi, salah seorang yang terpandai pun bertanya, mengutip kata-kata Ayahnya. “Untuk apa melanjutkan sekolah dan meninggalkan sawah-sawah kami? Bukankah sekolah tinggi hanya akan membikin kami membenci sawah tapi juga tak menyediakan pekerjaan lain, lalu membikin kita hanya bisa luntang-lantung menyusahkan orang tua seperti anak-anak kepala dusun itu?”
Maka akupun menjawabnya. “Bersekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan, apalagi membenci sawah. Kita bisa bersekolah tinggi sambil tetap mencintai kampung kita, sawah-sawah kita. Bersekolah itu untuk membuat kita tak jadi orang-orang yang tak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tak mendengarkan kebaikan walaupun memiliki telinga, tak membela kebenaran walaupun memiliki hati, tak pernah terharu dan tak bersemangat.”
“Pak Sobarudin, bisa ke kantor saya sebentar?” Suara Pak Dudung, kepala sekolah, tiba-tiba menyeruput telingaku dari arah punggung.
“Ada undangan penting dari kabupaten,” katanya lagi, sebelum sempat kukeluarkan sepatah katapun.
“O ya…” Aku membuntutinya.
“Ini undangan untuk Pak Sobar. Semua guru honorer se-kecamatan dikumpulkan bertemu Bupati minggu depan.”
Aku segera membukanya. Beberapa kata segera berpindah dari kertas itu ke kepalaku. Minggu. 15 November. Siang. Aula Kecamatan. Bupati. Realisasi Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti.
...Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan...
***
Hari Minggu ini sebenarnya sama saja seperti hari-hari Minggu lainnya. Ia terasa berbeda hanya lantaran ini hari Minggu pertama di musim penghujan. Kampung kami menjadi lebih sibuk. Hampir semua rumah memboyong seluruh isinya ke sawah, memulai upacara hidup yang itu-itu juga. Bercocok tanam. Mengutang pupuk ke koperasi Desa. Memimpikan panen padahal sawah baru saja mulai digarap. Menghitung kerugian yang pasti dating karena ongkos bersawah selalu saja lebih tinggi dari harga jual padi. Menyisakan hasil panen untuk bertahan hidup ala kadarnya selama kemarau yang belum-belum sudah mengintip mengendap hendak kembali.
Siang ini aku harus ke kecamatan, berjalan kaki tiga kilo ke arah barat daya. Sedari pagi buta, ketika matahari masih terbungkus kabut, pasti sudah banyak orang mengepung kantor kecamatan, untuk melihat wajah Pak Bupati yang katanya masih muda dan rajin membagi senyum itu.
“Kang. Jangan lupa mampir ke rumah Bi Mumun.” Anah mengingatkanku ketika setengah badanku
sudah tertelan pintu, hendak pergi.
“Ya.”
Sepulang dari kecamatan Aku memang mesti mampir ke pabrik tempe milik istri almarhum pamanku itu. Menjemput kulit kacang kedelai. ...amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku...
Anah biasa mencampurnya dengan terigu, bawang putih, garam dan sedikit merica, lalu menyulapnya menjadi makanan penganan bahkan kadang-kadang lauk-pauk utama. Dan kami menyukainya. Apalagi jika tersedia juga cobek favorit kami. Cobek bohong. Penampilannya memang seperti cobek tapi sebetulnya bukan juga. Ia hanya kuah belaka, tanpa jengkol atau ikan lele, atau apapun. Di sana hanya ada cabe merah yang panjang menjuntai-juntai mengundang gigitan. Orang-orang di kampung kami pun menyebutnya cobek bohong. Menu semacam itu adalah kemewahan besar di rumah kami, apalagi di masa-masa darurat.
Tapi hidup kami selalu saja darurat. Selepas SPG, lima tahun lalu, tak ada pekerjaan menjemputku. Semestinya aku jadi guru SD. Tapi itulah. Setiap tahun, selalu saja kemestian itu terganjal ujian penerimaan guru. Aku tak pernah lulus. Bukan sulitnya soal ujian yang sebenarnya menjadi masalahku, tapi selalu saja aku tak mampu menyediakan amplop, dengan isi mesti di atas satu juta rupiah, untuk Kepala Kantor Departemen. Kalau saja amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku. Tapi, dari mana kudapat uang sebanyak itu? Melihatnya saja aku tak pernah.
Untungnya, tenagaku masih terpakai di kampung. Membantu Bi Mumun di pabrik tempe. Membantu panen Kang Soleh dan tetangga-tetangga dekat lainnya. Membantu menjagal sapi menjelang Hari Raya Kurban. Membantu mencukur rumput kuburan desa setiap menjelang bulan puasa. Mengambil air dari sumur tua yang tak pernah kering di balik bukit untuk kepala dusun, tiap kali kemarau menjadi-jadi. Mengecat dan membetulkan pagar masjid menjelang Lebaran.
Tenagaku tak selalu dihargai dengan uang. Kadang-kadang diganjar hasil cocok-tanam, padi, atau makanan. Tapi semuanya terasa sangat membantu. Adapun satu-satunya sumber penghasilan tetapku adalah honor sebagai guru wiyata bakti alias guru honorer atau guru Bantu itu. Besarnya 75 ribu setiap bulan. Uang itu jauh dari cukup dan selalu habis untuk melunasi utang-utang belanja dapur kami ke warung Ceu Nenden di pertigaan jalan desa itu.
Untungnya, jodohku adalah Anah yang tak pernah menuntut. Sejak kunikahi empat tahun lalu, tak sekalipun Anah mengeluhkan keadaan kami. Di tengah kesusahan yang terus menguntit kami, Anah selalu melayaniku dengan baik. Siang dan malam hari.
Anah lah yang justru mengajariku untuk selalu bersyukur atas apapun yang kami peroleh. Mengajari tetap bersyukur sekalipun sampai saat ini kami belum juga beroleh momongan. Kami tak pernah membebani Tuhan dengan macam-macam tuntutan. Cukup saja lah kami tahu bahwa Tuhan tak pernah tidur. Pertemuan di aula kecamatan hari ini sebetulnya bukan yang pertama. Dua tahun lalu, semua guru honorer juga pernah dikumpulkan. Di aula sama. Hanya saja, waktu itu kami tak seberuntung sekarang. Dulu, yang yang datang bukan Bupati tetapi Kakandep dari kabupaten.
Selepas pertemuan itu, rasa syukurku bertambahtambah. Sejumlah guru honorer tampaknya memang lebih beruntung dariku. Mereka bias menambah penghasilan dengan menarik ojek di pasar kecamatan. Ada juga yang membuka warung atau kios koran, komik-komik agama dan tekateki silang. Tapi jauh lebih banyak yang bernasib lebih buruk. Pak Kosim dari desa di ujung utara itu hanya digaji 25 ribu per bulan. Ibu Eti, guru di tetangga desaku, tak punya gaji sama sekali. Ia hanya bisa menunggu hadiah hasil panen dari wali murid di kelasnya. Padahal, panen sering diganggu hama. Pak Komarudin, yang ternyata hanya terpisah tiga kampung denganku, digaji 25 ribu ditambah uang BP3 sebesar 1.500 rupiah dari murid-murid di kelasnya. Muridnya hanya ada 12 orang. Miskin semua. Mereka lebih sering menunggak ketimbang melunasinya. Di pertemuan dua tahun lalu itu pula kukenal Pak Asep Saepudin yang kepandaian bicaranya mengingatkanku pada Kiai Ishak, khatib masjid kecamatan. Ia guru di kota kecamatan. Pendiri dan pemimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Anak Bangsa (LSMPAB) yang katanya berusaha mengurusi nasib guru-guru bantu seperti kami. Dari Pak Asep pula aku tahu betapa pemerintah memang kekurangan guru SD dan membutuhkan kami. Propinsi kami saja, katanya, kekurangan 33.768 guru SD. Sebanyak 17.877 di antaranya adalah guru kelas. Maka, lagi-lagi menurut Pak Asep, jika guru-guru honorer di seluruh Jawa Barat berhenti, hampir 18 ribu kelas akan terlantar.
“Kami para guru honorer bukanlah orang-orang yang disumbang pemerintah. Kamilah yang membantu pemerintah menyelenggarakan pendidikan di tingkat dasar. Kalau tak ada kami, pemerintah kerepotan. Jadi, bukan kami yang harus berterima kasih, tetapi pemerintahlah yang semestinya berterima kasih dan memperbaiki nasib kami,” begitulah antara lain yang dikatakan Pak Asep di pertemuan itu. Hadirin bersorak bertepuk tangan. Wajah Pak Kakandep kulihat memerah delima.
Boleh jadi, suara Pak Asep sampai juga ke telinga Pak Bupati. Buktinya hari ini Pak Bupati datang dan akan mengurus “Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti.” Seperti tertulis di undangan.
Benar saja. Kantor kecamatan seperti gula dikepung semut. Halaman luarnya disesaki orang-orang. Mereka benar-benar ingin melihat wajah Pak Bupati yang murah senyum itu rupanya.Setelah kulipat-lipat badan, menyusup di tengah orang-orang yang berkerumun sambil bertukar keringat dengan mereka, akhirnya sampai juga aku di depan aula itu. Kuacungkan kertasundangan memberi tahu bahwa aku guru honorer yang berhak masuk aula.
“Nah… ini ada satu lagi.” Seseorang yang berseragam coklat muda tiba-tiba setengah menghardikku sambil menunjuk-nunjuk ke arah sandal dan kakiku, membuatku bingung tak mengerti.
“Mari. Saudara harus duduk di ruang terpisah. Tidak di aula. Ini instruksi Bapak-Bapak di kantor kabupaten. Yang masuk aula harus pakai sepatu. Untuk menghormati Pak Bupati!” Aku mulai mengerti. Semacam amarah beranakpinak di dadaku. Tak boleh masuk aula hanya karena tak bersepatu? Apa yang salah dengan sandal lili yang baru kucuci tadi pagi ini? Sepatu? Menghormati Bupati?
Tapi mata tak bersahabat orang-orang berseragam coklat muda itu dengan cepat menggugurkan anak-pinak kemarahanku. Aku pun membuntuti mereka. Masuk ke ruang di sebelah aula. Di sana sudah ada beberapa puluh orang lainnya. Semuanya tak bersepatu. Moncong pengeras suara mengintip dari jendela, memelototi kami. Aku tak sendiri. Kutemukan juga beberapa wajah tak senang. Menahan marah.
Duh Anah…. Maafkan aku. Dari sini, aku tak bisa melihat wajah Pak Bupati. Aku tak bisa menjaga janjiku untuk sepulang nanti bercerita apakah benar Pak Bupati muda itu memang selalu tersenyum.
***
“Syukurlah Kang. Syukur.”
Hanya itu yang keluar dari mulut kecil Anah ketika kuceritakan apa yang kudengar dari Pak Bupati di pertemuan itu. Pak Bupati berjanji memperbaiki nasib guru-guru honorer di kecamatan kami yang ternyata jumlahnya makin banyak. Ratusan. Pak Bupati akan segera melakukan sesuatu. Bertahap. Sesuai kemampuan kabupaten. Untuk memperbaiki kesejahteraan guru-guru honorer.
Dimulai dari yang penting. Hampir setiap hari kampung kami diguyur hujan. Pematang sawah menuju sekolah itu pun makin menuntut ketrampilan-ketrampilan sirkusku. Sudah kubatalkan pula rencana memperbaiki sepatu jebolku ke pasar kecamatan. Sepasang sepatu, barang mewah yang tak berguna dan merepotkan itu, kini tercampak bersama timbunan sampah di kebun belakang. Tali keduanya saling terikat. Teronggok. Seperti sepasang anak kembar yang mati bunuh diri.
***
Dua minggu sudah pertemuan dengan Pak Bupati itu lewat. Hari ini, langit di atas kampung kami bolong. Air pun jatuh tercurah deras. Petir dan angin besar mengecewakan anak-anak Kang Soleh. Rengekan mereka untuk bermain bersama hujan, bertepuk sebelah tangan. Kulihat mereka duduk-duduk di beranda, memandangi hujan dengan penuh hasrat.
Satu sosok muncul dari belokan jalan desa. Setengah berlari. Setangkai daun pisang memayungi kepalanya — kurasa, dengan percuma. Ia tetap kuyup juga. Petir dan angina seperti mendorong-dorongnya untuk bergegas.
Badan kuyupnya dibungkukkan, sepertinya melindungi sesuatu di dadanya. Sosok itu mendekat. Ia tak menyusuri jalan desa yang menikung ke kiri. Tapi ke rumahku. Persis ke arahku. Ternyata Mang Maman, penjaga SD Inpresku.
“Silakan masuk Mang. Aduh. Hujan besar begini kok memaksakan diri datang ke sini.”
“Saya diminta Pak Dudung mengantar kiriman untuk Pak Sobar. Katanya penting. Dari Pak Bupati. Ada juga suratnya.”
Kubiarkan Kang Maman berdiri di pintu. Badannya kuyup. Seperti kerupuk tercelup kuah sayur. Kuambil kardus itu. Kubuka suratnya. Benar. Dari Pak Bupati. Pendek saja. Dari atas kertas, kata-kata berat itu berpindah ke kepalaku. Wujud kepedulian pemerintah. Usaha nyata membantu harkat guru honorer. Menaikkan citra, wibawa, dan martabat Guru Wiyata Bakti. Untuk masa depan dunia pendidikan yang lebih baik.
Maka, kubuka kardus itu. Isinya: sepasangsepatu.
Oleh : Eep Saefulloh Fatah
Minggu, 13 September 2009
Sang Guru
Sumber: Suara Karya
“Kamu ngomong apa Dik? Apa saya tidak salah dengar?” tanya Tardi kepada istrinya. Ia seperti tidak percaya dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan Asfina. Betapa tidak, tanpa prolog terlebih dulu, tiba-tiba perempuan berhidung mancung itu mengatakan ingin berhenti kerja.
“Benar, Mas. Saya sungguh-sungguh.”
“Kenapa?”
Asfina diam.
“Apa kamu takut kita tidak segera punya momongan?” desak Tardi.
Lelaki itu bertanya demikian, lantaran Asfina belum memberikan tanda-tanda akan mempunyai keturunan. Padahal ia sudah sangat merindukan segera datangnya sang buah hati. Sementara itu, usia perkawinan mereka sudah tiga tahun lebih.
Memang. Tardi sempat beberapa kali menyatakan keinginannya untuk segera punya keturunan. Itulah sebabnya mereka tidak ber-KB. Ia pernah merasa khawatir jika seorang perempuan sibuk tidak akan segera bisa hamil. Dua orang teman kerja Tardi – Ririn dan Ika – yang sudah cukup lama menikah belum juga punya keturunan. Memang. Ika baru empat tahun menikah. Tetapi, Ririn yang sudah enam tahun menikah belum juga memberi tanda-tanda akan hamil.
Ririn adalah atasan Tardi di tempat kerjanya. Tak jarang perempuan ini pulang paling akhir. Sering bekerja lembur. Ya, jika Ririn menyuruh anak buahnya bekerja lembur – tidak bisa tidak – ia pun akan ikut bekerja lembur. Kesibukan inilah yang dipercaya teman-teman kantor Tardi sebagai penyebab Ririn tidak kunjung hamil. Tardi pernah menceritakan hal ini kepada Asfina.
“Ya, sangat mungkin sekali hal itu terjadi,” demikian komentar Asfina, tatkala Tardi menceritakan keadaan Ririn yang tak kunjung hamil, “Perempuan kalau terlalu sibuk bisa jadi akan mengalami hambatan untuk hamil. Masalahnya akan lain jika Bu Ririn ikut kabe. Tetapi, Mas bilang kalau Bu Ririn ….”
“Saya bingung ngomongnya, Mas,” ujar Asfina membuyarkan lamunan suaminya.
“Bingung bagaimana?” tanya Tardi, “Tetapi, apa kamu takut tidak segera bisa hamil kalau masih bekerja. Saya tidak akan …”
“Saya tidak berpikir sejauh itu Mas,” potong Asfina, “Siapa bilang orang yang bekerja dapat memengaruhi kehamilan. Lha wong, mBok-mbok tukang gendong di pasar tetap bisa hamil. Bahkan di antara mereka ada yang anaknya banyak.”
Tardi diam kembali. Mungkinkah Asfina sudah berubah pemikiran? tanyanya dalam batin. Atau barangkali ia tak ingin saya kecewa andaikata dirinya tak kunjung hamil.
“Masalahnya kalau kamu berhenti kerja, tidak mudah untuk mendapat pekerjaan lagi,” kata Tardi, setelah agak lama diam, “Cari kerja sekarang ini susah, Dik.”
Asfina bergeming. Ia masih belum tahu bagaimana menjelaskan permasalahan yang sedang dihadapi di tempat kerjanya kepada suami sendiri. Sebab khawatir akan dianggap membuka aib korp.
“Apa kamu diteror seseorang?”
Asfina diam.
Asfina pernah menceritakan ada seorang bapak yang tidak terima karena anaknya dipulangkan. Gara-garanya anak itu menunggak iuran bulanan. Lelaki itu datang ke sekolah dengan membawa golok. Ia marah-marah di sana.
“Siapa yang telah menyuruh anak saya pulang? Siapa yang tidak mengizinkan Sani mengikuti pelajaran?” kata lelaki itu setengah berteriak, di depan pintu ruang guru.
Para guru yang tengah duduk di sana tidak ada yang melayani lelaki itu. Para tenaga pendidik yang sedang beristirahat di ruangan itu tampak tegang. Waw-was. Takut. Ngeri. Mereka tidak ada yang mencoba mendekati lelaki yang tengah dikuasai rasa marah itu.
“Siapa yang menyuruh anak saya pulang?” ulangnya, setengah berteriak.
Lelaki itu datang ke sekolah bukan semata-mata disebabkan anaknya disuruh pulang. Melainkan sesungguhnya ia masih belum rela melepas tanah warisan yang telah dijadikan sekolah. Ia memang salah seorang pemilik sebagian lahan yang kini sudah menjadi kompleks perumahan, dan salah satunya dijadikan bangunan sekolah. Meskipun ia sudah menerima ganti rugi dari pihak pengembang. Tetapi, Marsam – demikian nama lelaki itu – seperti kebanyakan pemilik tanah lainnya yang sudah dijadikan kompleks perumahan, masih belum sepenuhnya rela melepas tanahnya menjadi kompleks perumahan.
Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang tentara yang anaknya juga bersekolah di tempat itu datang. Aparat berpakaian seragam loreng-loreng itu turun tangan menghadapi Marsam.
“Atau ada anak brengsek yang bikin kamu….”
“Tidak ada, Mas,” kembali Asfina memotong kalimat yang belum usai disampaikan suaminya.
“Nah, kalau begitu sebetulnya tidak ada masalah. Kenapa kamu ingin berhenti?”
Asfina diam.
Tardi kembali diam. Ia benar-benar merasa bingung dengan permintaan istrinya yang dianggap tidak masuk akal. Aneh. Janggal. Betapa tidak, di saat orang susah mendapatkan pekerjaan Asfina justru ingin berhenti kerja.
“Apa karena pendapatan kamu tidak sesuai dengan yang kita harapkan?” Tardi kembali melontarkan pertanyaan, setelah cukup lama ia menunggu reaksi dari istrinya. Namun, Asfina tetap bergeming.
Pertanyaan ini dilontarkan Tardi, lantaran istrinya pernah melontarkan kekecewaannya dengan besarnya gaji yang ia terima setiap bulan. Memang. Gaji yang diterima Asfina setiap bulan nyaris pas-pasan. Apalagi jika Asfina, misalnya, terpaksa menggunakan jasa ojek ketika berangkat kerja. Tak heran bila Asfina pernah beberapa kali melontarkan kekecewaannya.
“Jika dihitung-hitung saya ini jadi seperti orang kerja bakti, Mas,” kata Asfina.
“Kalau memang begitu, ya lebih baik kamu tidak usah kerja saja, Dik,” komentar Tardi, setelah berkali-kali istrinya melontarkan kalimat yang sama, ketika itu.
“Toh kamu kerja atau tidak, penghasilan kamu tidak pernah bisa ditabung. Jadi, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya,” lanjut Tardi memancing reaksi istrinya.
“Ya, bukan tidak ada hasilnya Mas,” ujar Asfina.
“Tadi kamu bilang kerja bakti. Lalu kenapa ….”
“Maksud saya bukan itu hasilnya.”
“Lantas?”
“Saya merasa senang apabila ada murid yang berprestasi. Bangga bila apa yang saya ajarkan dapat bermanfaat bagi mereka. Jadi, bukan materi yang saya peroleh Mas. Melainkan kepuasan batin.”
Tardi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tardi merasa aneh lantaran di satu sisi istrinya mengeluh tetapi di sisi lain ia memperoleh kepuasan batin. Padahal kepuasan batin tak bisa diukur dengan materi. Bahkan seringkali orang yang ingin mendapat kepuasan batin harus berkorban materi. Ketika ia masih bujangan, misalnya. Kegemaran Tardi memancing – tidak bisa tidak – memerlukan pengorbanan materi yang tidak sedikit. Namun, ia memperoleh kepuasan batin ketika kailnya dimakan ikan. Kepuasan ini dirasakan ketika ia menarik senar pancing. Bukan semata-mata banyaknya ikan yang berhasil ia peroleh. Sebab jika ia mendapat ikan acapkali hasilnya justru diberikan kepada tetangga.
Sementara itu, Asfina mendapat kepuasan batin dengan pekerjaan yang ditekuninya. Mendapat kepuasan batin tanpa harus mengeluarkan biaya. Tidak merasa sia-sia menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Lalu kenapa mesti mengatakan kerja bakti? Tardi membatin.
“Ada kebanggaan yang tidak bisa dijelaskan bila anak didik saya nanti ada yang jadi orang. Ya, misalnya di antara anak didik saya nanti ….”
“Saya ingin berhenti bukan karena gaji, Mas,” Asfina membuyarkan pikiran Tardi.
“Ya, bagus kalau kamu tidak mempersoalkan gaji. Toh, saya pernah bilang pekerjaan kamu itu mulia. Pekerjaan mendidik generasi penerus bangsa tak bisa dinilai dengan apa pun. Jadi, …”
“Kenyataannya tidak demikian, Mas,” potong Asfina.
“Maksudnya?”
“Saya merasa mendidik ketidakjujuran mereka.”
Tardi diam. Ia terkejut mendengar kalimat istrinya. Meskipun demikian ia tidak ingin menunjukkan rasa kaget itu di depan Asfina.
Selanjutnya Asfina menceritakan konflik yang terjadi dalam batinnya selama ini. Ya, lantaran setiap menjelang UN semua guru di sekolahnya – termasuk Asfina, tentunya – harus membantu murid-muridnya agar mereka lulus. Caranya dengan memberikan contekan kepada peserta UN. Jika tidak demikian, bisa dipastikan, yang lulus tidak sampai separuhnya. Apalagi standar kelulusan makin ditingkatkan. Padahal jumlah siswa yang lulus sangat memengaruhi penilaian terhadap pendidik di sekolah.
“Bukankah ini artinya guru mendidik anak menjadi manusia yang tidak jujur,” lanjut Asfina.
“Apa pengawas independen….”
“Pengawas independen juga manusia. Kalau mereka diajak damai dalam tanda kutip juga mau. Nonsense! Jika mereka benar-benar mengawasi pelaksanaan UN. Itu sebabnya saya selalu dihantui rasa bersalah, Mas.”
Pantas banyak orang tidak jujur. Rupa-rupanya mereka salah didik, pikir Tardi. Kalau begitu tak heran jika ada politisi tidak jujur dengan istrinya – melakukan perselingkuhan. Ada yang tidak jujur dengan negara dan bangsa, melakukan tindak korupsi. Ada yang tidak jujur dengan rakyat, mengingkari janji terhadap rakyat. Ada yang tidak jujur dengan keadilan yang harus ditegakkan, seperti yang dilakukan aparat …..
“Mas Tardi pasti tidak akan percaya kenyataan di lapangan tidak sama dengan teori para pejabat tinggi negara,” untuk ke sekian kalinya Asfina menghentikan pertanyaan yang bergejolak dalam batin Tardi.
Tardi masih tetap diam.
“Bagaimana pendapat Mas Tardi kalau saya berhenti?”
“Sudahlah nanti kita pikirkan lagi bagaimana baiknya. Sekarang kita tidur dulu. Sudah malam Dik,” kata Tardi. br
Lalu Tardi ke kamar tidur diikuti istrinya, setelah sebelumnya mematikan lampu yang sudah tak terpakai.
Di tempat tidur Tardi langsung merebahkan diri. Memejamkan mata. Namun, pikiran- nya masih dipenuhi setumpuk pertanyaan mengenai istrinya. Sebab ia tak pernah menduga Asfina masih punya idealisme ketika sudah banyak orang yang kehilangan nilai-nilai luhur ini. Istrinya menjadi guru sebuah sltp bukan karena agar tidak menganggur lantaran ia seorang sarjana. Asfina menjadi guru karena panggilan hati nurani. Andaikata semua guru seperti istri saya mungkinkah peserta UN yang lulus tidak akan sampai separuhnya? tanyanya dalam batin. Meskipun demikian Tardi tak ingin melontarkan pertanyaan ini. Entah sampai kapan Tardi tak bisa memejamkan mata. Yang jelas, ia baru benar-benar tertidur setelah seluruh tubuhnya terasa lemas
Oleh : Humam S. Chudori
“Kamu ngomong apa Dik? Apa saya tidak salah dengar?” tanya Tardi kepada istrinya. Ia seperti tidak percaya dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan Asfina. Betapa tidak, tanpa prolog terlebih dulu, tiba-tiba perempuan berhidung mancung itu mengatakan ingin berhenti kerja.
“Benar, Mas. Saya sungguh-sungguh.”
“Kenapa?”
Asfina diam.
“Apa kamu takut kita tidak segera punya momongan?” desak Tardi.
Lelaki itu bertanya demikian, lantaran Asfina belum memberikan tanda-tanda akan mempunyai keturunan. Padahal ia sudah sangat merindukan segera datangnya sang buah hati. Sementara itu, usia perkawinan mereka sudah tiga tahun lebih.
Memang. Tardi sempat beberapa kali menyatakan keinginannya untuk segera punya keturunan. Itulah sebabnya mereka tidak ber-KB. Ia pernah merasa khawatir jika seorang perempuan sibuk tidak akan segera bisa hamil. Dua orang teman kerja Tardi – Ririn dan Ika – yang sudah cukup lama menikah belum juga punya keturunan. Memang. Ika baru empat tahun menikah. Tetapi, Ririn yang sudah enam tahun menikah belum juga memberi tanda-tanda akan hamil.
Ririn adalah atasan Tardi di tempat kerjanya. Tak jarang perempuan ini pulang paling akhir. Sering bekerja lembur. Ya, jika Ririn menyuruh anak buahnya bekerja lembur – tidak bisa tidak – ia pun akan ikut bekerja lembur. Kesibukan inilah yang dipercaya teman-teman kantor Tardi sebagai penyebab Ririn tidak kunjung hamil. Tardi pernah menceritakan hal ini kepada Asfina.
“Ya, sangat mungkin sekali hal itu terjadi,” demikian komentar Asfina, tatkala Tardi menceritakan keadaan Ririn yang tak kunjung hamil, “Perempuan kalau terlalu sibuk bisa jadi akan mengalami hambatan untuk hamil. Masalahnya akan lain jika Bu Ririn ikut kabe. Tetapi, Mas bilang kalau Bu Ririn ….”
“Saya bingung ngomongnya, Mas,” ujar Asfina membuyarkan lamunan suaminya.
“Bingung bagaimana?” tanya Tardi, “Tetapi, apa kamu takut tidak segera bisa hamil kalau masih bekerja. Saya tidak akan …”
“Saya tidak berpikir sejauh itu Mas,” potong Asfina, “Siapa bilang orang yang bekerja dapat memengaruhi kehamilan. Lha wong, mBok-mbok tukang gendong di pasar tetap bisa hamil. Bahkan di antara mereka ada yang anaknya banyak.”
Tardi diam kembali. Mungkinkah Asfina sudah berubah pemikiran? tanyanya dalam batin. Atau barangkali ia tak ingin saya kecewa andaikata dirinya tak kunjung hamil.
“Masalahnya kalau kamu berhenti kerja, tidak mudah untuk mendapat pekerjaan lagi,” kata Tardi, setelah agak lama diam, “Cari kerja sekarang ini susah, Dik.”
Asfina bergeming. Ia masih belum tahu bagaimana menjelaskan permasalahan yang sedang dihadapi di tempat kerjanya kepada suami sendiri. Sebab khawatir akan dianggap membuka aib korp.
“Apa kamu diteror seseorang?”
Asfina diam.
Asfina pernah menceritakan ada seorang bapak yang tidak terima karena anaknya dipulangkan. Gara-garanya anak itu menunggak iuran bulanan. Lelaki itu datang ke sekolah dengan membawa golok. Ia marah-marah di sana.
“Siapa yang telah menyuruh anak saya pulang? Siapa yang tidak mengizinkan Sani mengikuti pelajaran?” kata lelaki itu setengah berteriak, di depan pintu ruang guru.
Para guru yang tengah duduk di sana tidak ada yang melayani lelaki itu. Para tenaga pendidik yang sedang beristirahat di ruangan itu tampak tegang. Waw-was. Takut. Ngeri. Mereka tidak ada yang mencoba mendekati lelaki yang tengah dikuasai rasa marah itu.
“Siapa yang menyuruh anak saya pulang?” ulangnya, setengah berteriak.
Lelaki itu datang ke sekolah bukan semata-mata disebabkan anaknya disuruh pulang. Melainkan sesungguhnya ia masih belum rela melepas tanah warisan yang telah dijadikan sekolah. Ia memang salah seorang pemilik sebagian lahan yang kini sudah menjadi kompleks perumahan, dan salah satunya dijadikan bangunan sekolah. Meskipun ia sudah menerima ganti rugi dari pihak pengembang. Tetapi, Marsam – demikian nama lelaki itu – seperti kebanyakan pemilik tanah lainnya yang sudah dijadikan kompleks perumahan, masih belum sepenuhnya rela melepas tanahnya menjadi kompleks perumahan.
Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang tentara yang anaknya juga bersekolah di tempat itu datang. Aparat berpakaian seragam loreng-loreng itu turun tangan menghadapi Marsam.
“Atau ada anak brengsek yang bikin kamu….”
“Tidak ada, Mas,” kembali Asfina memotong kalimat yang belum usai disampaikan suaminya.
“Nah, kalau begitu sebetulnya tidak ada masalah. Kenapa kamu ingin berhenti?”
Asfina diam.
Tardi kembali diam. Ia benar-benar merasa bingung dengan permintaan istrinya yang dianggap tidak masuk akal. Aneh. Janggal. Betapa tidak, di saat orang susah mendapatkan pekerjaan Asfina justru ingin berhenti kerja.
“Apa karena pendapatan kamu tidak sesuai dengan yang kita harapkan?” Tardi kembali melontarkan pertanyaan, setelah cukup lama ia menunggu reaksi dari istrinya. Namun, Asfina tetap bergeming.
Pertanyaan ini dilontarkan Tardi, lantaran istrinya pernah melontarkan kekecewaannya dengan besarnya gaji yang ia terima setiap bulan. Memang. Gaji yang diterima Asfina setiap bulan nyaris pas-pasan. Apalagi jika Asfina, misalnya, terpaksa menggunakan jasa ojek ketika berangkat kerja. Tak heran bila Asfina pernah beberapa kali melontarkan kekecewaannya.
“Jika dihitung-hitung saya ini jadi seperti orang kerja bakti, Mas,” kata Asfina.
“Kalau memang begitu, ya lebih baik kamu tidak usah kerja saja, Dik,” komentar Tardi, setelah berkali-kali istrinya melontarkan kalimat yang sama, ketika itu.
“Toh kamu kerja atau tidak, penghasilan kamu tidak pernah bisa ditabung. Jadi, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya,” lanjut Tardi memancing reaksi istrinya.
“Ya, bukan tidak ada hasilnya Mas,” ujar Asfina.
“Tadi kamu bilang kerja bakti. Lalu kenapa ….”
“Maksud saya bukan itu hasilnya.”
“Lantas?”
“Saya merasa senang apabila ada murid yang berprestasi. Bangga bila apa yang saya ajarkan dapat bermanfaat bagi mereka. Jadi, bukan materi yang saya peroleh Mas. Melainkan kepuasan batin.”
Tardi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tardi merasa aneh lantaran di satu sisi istrinya mengeluh tetapi di sisi lain ia memperoleh kepuasan batin. Padahal kepuasan batin tak bisa diukur dengan materi. Bahkan seringkali orang yang ingin mendapat kepuasan batin harus berkorban materi. Ketika ia masih bujangan, misalnya. Kegemaran Tardi memancing – tidak bisa tidak – memerlukan pengorbanan materi yang tidak sedikit. Namun, ia memperoleh kepuasan batin ketika kailnya dimakan ikan. Kepuasan ini dirasakan ketika ia menarik senar pancing. Bukan semata-mata banyaknya ikan yang berhasil ia peroleh. Sebab jika ia mendapat ikan acapkali hasilnya justru diberikan kepada tetangga.
Sementara itu, Asfina mendapat kepuasan batin dengan pekerjaan yang ditekuninya. Mendapat kepuasan batin tanpa harus mengeluarkan biaya. Tidak merasa sia-sia menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Lalu kenapa mesti mengatakan kerja bakti? Tardi membatin.
“Ada kebanggaan yang tidak bisa dijelaskan bila anak didik saya nanti ada yang jadi orang. Ya, misalnya di antara anak didik saya nanti ….”
“Saya ingin berhenti bukan karena gaji, Mas,” Asfina membuyarkan pikiran Tardi.
“Ya, bagus kalau kamu tidak mempersoalkan gaji. Toh, saya pernah bilang pekerjaan kamu itu mulia. Pekerjaan mendidik generasi penerus bangsa tak bisa dinilai dengan apa pun. Jadi, …”
“Kenyataannya tidak demikian, Mas,” potong Asfina.
“Maksudnya?”
“Saya merasa mendidik ketidakjujuran mereka.”
Tardi diam. Ia terkejut mendengar kalimat istrinya. Meskipun demikian ia tidak ingin menunjukkan rasa kaget itu di depan Asfina.
Selanjutnya Asfina menceritakan konflik yang terjadi dalam batinnya selama ini. Ya, lantaran setiap menjelang UN semua guru di sekolahnya – termasuk Asfina, tentunya – harus membantu murid-muridnya agar mereka lulus. Caranya dengan memberikan contekan kepada peserta UN. Jika tidak demikian, bisa dipastikan, yang lulus tidak sampai separuhnya. Apalagi standar kelulusan makin ditingkatkan. Padahal jumlah siswa yang lulus sangat memengaruhi penilaian terhadap pendidik di sekolah.
“Bukankah ini artinya guru mendidik anak menjadi manusia yang tidak jujur,” lanjut Asfina.
“Apa pengawas independen….”
“Pengawas independen juga manusia. Kalau mereka diajak damai dalam tanda kutip juga mau. Nonsense! Jika mereka benar-benar mengawasi pelaksanaan UN. Itu sebabnya saya selalu dihantui rasa bersalah, Mas.”
Pantas banyak orang tidak jujur. Rupa-rupanya mereka salah didik, pikir Tardi. Kalau begitu tak heran jika ada politisi tidak jujur dengan istrinya – melakukan perselingkuhan. Ada yang tidak jujur dengan negara dan bangsa, melakukan tindak korupsi. Ada yang tidak jujur dengan rakyat, mengingkari janji terhadap rakyat. Ada yang tidak jujur dengan keadilan yang harus ditegakkan, seperti yang dilakukan aparat …..
“Mas Tardi pasti tidak akan percaya kenyataan di lapangan tidak sama dengan teori para pejabat tinggi negara,” untuk ke sekian kalinya Asfina menghentikan pertanyaan yang bergejolak dalam batin Tardi.
Tardi masih tetap diam.
“Bagaimana pendapat Mas Tardi kalau saya berhenti?”
“Sudahlah nanti kita pikirkan lagi bagaimana baiknya. Sekarang kita tidur dulu. Sudah malam Dik,” kata Tardi. br
Lalu Tardi ke kamar tidur diikuti istrinya, setelah sebelumnya mematikan lampu yang sudah tak terpakai.
Di tempat tidur Tardi langsung merebahkan diri. Memejamkan mata. Namun, pikiran- nya masih dipenuhi setumpuk pertanyaan mengenai istrinya. Sebab ia tak pernah menduga Asfina masih punya idealisme ketika sudah banyak orang yang kehilangan nilai-nilai luhur ini. Istrinya menjadi guru sebuah sltp bukan karena agar tidak menganggur lantaran ia seorang sarjana. Asfina menjadi guru karena panggilan hati nurani. Andaikata semua guru seperti istri saya mungkinkah peserta UN yang lulus tidak akan sampai separuhnya? tanyanya dalam batin. Meskipun demikian Tardi tak ingin melontarkan pertanyaan ini. Entah sampai kapan Tardi tak bisa memejamkan mata. Yang jelas, ia baru benar-benar tertidur setelah seluruh tubuhnya terasa lemas
Oleh : Humam S. Chudori
PERSEMBAHAN TERAKHIR UNTUK BUNDA
Hari ini hari Sabtu, hari yang kubenci. Sore ini aku harus pergi ke sebuah gedung menyebalkan yang disebut sekolah musik. Mungkin bagi sebagian besar teman-temanku disana, tempat itu sungguh menyenangkan. Alat-alat musik akustik dimainkan dengan indah. Mereka bisa memilih sendiri alat musik apa yang ingin mereka pelajari.
Namun tidak bagiku. Aku benci musik, apa lagi musik klasik, yang terpaksa kudengarkan setiap Sabtu sore. Uh……….menjenuhkan!
“Eva…segeralah bersiap-siap, jam empat nanti kamu sekolah musik bukan?” Tegur Bunda dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Iya Bunda….sebentar lagi aku berangkat!” Teriakku dari dalam kamar.
Yap, aku terpaksa menuruti kehendak Bunda agar aku belajar bermain biola di gedung menjengkelkan itu. Aku tau Bunda akan sangat kecewa padaku bila aku menolaknya. Aku masih cukup punya hati untuk itu. Bunda begitu teropsesi pada biola. Aku tak heran mengapa. Dulu bunda sangat menyukai biola. Bahkan, beliau sering pergi ke luar Negeri untuk mengikuti konser ataupun lomba memainkan biola. Namun impian Bunda pupus seketika karena harus kehilangan sebelah tangannya karena sebuah kecelakaan. Jadi Bunda melampiaskan semua impiannya padaku..
“Eva…….cepatlah nak, jangan sampai kau terlambat. Ini, biolamu sudah Bunda siapkan”
Aku tersadar dari lamunanku. Jarum jam menunjukkan pukul 15.50. Akupun berpamitan pada Bunda, dan melesat bersama sepeda kesayanganku.
Takdir mengantarku menjadi anak tunggal yang yatim membuat Bunda menaruh harapan besar padaku. Aku tak ingin menanggalkan keinginan Bunda, tapi ini bukan duniaku. Bagaimanapun aku harus mengatakan hal ini pada Bunda suatu saat nanti.
******
Siang itu, ketika aku baru pulang setelah bermain bola basket bersama teman-teman priaku, kudapati keadaan rumah begitu sepi. Lebih sepi dari biasanya.
“Dimana Bunda?” pikirku dalam hati.
Kutengok dapur, Bunda tak disana. Begitu juga di ruang baca, bekas ruang kerja ayah dulu. Bunda tak terlihat disana.
“ Bunda……Bunda……Eva pulang” teriakku. Namun tak ada jawaban.
Namun akhirnya kutemukan Bunda terbaring lemas diatas ranjangnya. Wajahnya pucat, dan tampaknya ia kesakitan. Aku duduk ditepi tempat tidur, dan bicara pada Bunda
“Bunda, Bunda kenapa? Apa Bunda sakit? Ayo Bun, Eva antar ke dokter”
“Bunda tidak apa-apa sayang, hanya sakit kepala biasa. Istirahat sebentar juga pasti sembuh, Bunda sudah biasa begini” kata Bunda tersenyum tipis.
Aku mengelus lembut kening Bunda. Ku sibakkan anak-anak rambut yang menjuntai di kening orang yang paling kusayang ini. Aku tak akan memaksanya. Karena aku tau betul sifat Bunda yang tidak suka dipaksa.
“Eva…”
“Iya Bunda”
“Belajarlah memainkan biola dengan sungguh-sungguh ya nak, jangan kecewakan Bunda”
Aku hanya tersenyum, tak berani mengiyakannya.
“Bunda sudah tua ya, kamupun sudah dewasa. Bunda ingin sekali melihat Eva sukses sebelum Bunda berpulang” kata Bunda lembut
“Bunda, jangan bicara yang tidak-tidak, Eva sayang Bunda”
“Bunda juga sayang sekali sama Eva…” jawab Bunda
Kata-kata Bunda barusan membuatku tersentak. Bagaimana aku bisa berprestasi bila aku tak bisa memainkan satu lagupun yang telah diajarkan? Akankah nanti Bunda kecewa padaku disaat-saat terakhirnya? Aku jadi merasa bersalah pada Bunda.
Di sampingku Bunda telah terlelap. Kupandangi wajahnya yang penuh kasih sayang. Garis-garis samar yang tertera di wajahnya menandakan kelelahan di usia tuanya. Rambutnyapun telah memutih. Semakin sayang aku pada Bunda.
Aku membelai pelan pipinya. Namun tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang kurang.
“Ya Allah, Bunda! Bangun Bunda!” teriakku panik
Aku baru menyadari, nafas Bunda tersendat-sendat. Segera aku mencari pertolongan dari para tetanggaku. Aku menangis dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku khawatir pada Bunda. Aku terus berdoa agar Bunda diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Di rumah sakit, Dokter dan suster lalu lalang di depanku. Aku terus menerus berdoa. Aku tak bisa membendung airmataku. Semuanya terjadi begitu cepat.
Setelah lama menunggu, seorang Dokter menemuiku dan membawakan sebuah kabar
“Ibu anda berhasil kami selamatkan. Namun ada satu hal yang harus anda ketahui”
“Apa itu Dok?”
“Ibu anda menderita kanker otak stadium empat. Dan kami prediksikan, sisa hidupnya tinggal satu tahun lagi”
Aku tersentak mendengarnya. Benar-benar terpukul. Bunda yang begitu kusayang akan pergi dariku selamanya. Aku, seorang Eva yang orang-orang nilai tomboy ini menangis sehari penuh karena masalah ini. Entah apa yang akan kulakukan sepeninggalan Bunda nantinya.
*****
Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk membahagiakan Bunda. Aku tidak memberi tahu Bunda tentang sisa umurnya yang tak lama lagi. Namun agaknya Bunda sudah mempunyai firasat.
Sabtu sore yang biasanya kulalui dengan tak bersemangat, kini berubah. Ku coba untuk lebih serius belajar biola. Memahami lagunya, dan belajar menyukainya. Selain itu aku juga mencoba untuk mengikuti seleksi dalam pemilihan pemain konser atau pemilihan wakil sekolah dalam sebuah lomba. Masih terngiang di telingaku, kata-kata Bunda yang menginginkan aku sukses. Khususnya sukses sebagai pemain biola.
Beberapa bulan kemudian, aku berhasil mewujudkan impian Bunda. Aku berhasil menjuarai sebuah kontes musik klasik Nasional bersama biolaku. Bangga rasanya. Terlebih Bunda, aku dapat melihat kebahagiaan yang mendalam dalam airmatanya ketika aku pulang sebagai juara.
Kemenanganku ini pula yang mengantarku pergi keluar Negeri untuk bertanding di kancah dunia. Sungguh, baru kali ini aku merasakan senangnya mewujudkan impian Orangtua.
Tidak begitu lama setelah kepulanganku ke Tanah Air dengan gelar juara, keadaan Bunda semakin melemah. Bunda seakan sudah tidak kuat lagi menahan deritanya itu. Aku hanya bisa menemaninya di sisa-sisa waktunya.
“Eva…terimakasih sayang, kamu telah menjadi seperti apa yang Bunda harap. Bunda bangga sekali padamu” Bunda berkata lirih
Aku tersenyum. Kuraih tangan kanan Bunda yang masih berfungsi, dan ku dekap penuh kasih.
“Bila nanti Bunda tiada, janganlah kamu jadi anak pemurung. Hidupmu masih akan terus berjalan. Hidupilah dirimu sendiri, Eva. Eva anak yang mandiri, bukan?”
Aku mengangguk pelan. Miris rasanya mendengar suara Bunda yang bergetar.
“Hanya satu pesan Bunda. Jangan berhenti bermain biola, Eva”
“Iya Bunda, Eva janji. Tidak akan mengecewakan Bunda. Eva akan terus bermain biola” jawabku dengan suara serak, menahan airmata.
“Bunda percaya sama Eva…bolehkah Bunda mendengarkan sebuah lagu dari biolamu, nak? Sebagai lagu pertama dan terakhir yang Bunda dengar darimu.”
Aku mengangguk, lalu beranjak mengambil biolaku. Lantas, aku berdiri di dekat ranjang Bunda. Ku mainkan sebuah lagu kesayangan Bunda. Aku memainkan biolaku dengan penuh perasaan. Perasaan kasihku terhadap Bunda.
Bunda meneteskan airmata ketika mendengar permainanku. Beliau tersenyum manis, sebelum akhirnya menutup matanya saat lagu itu belum selesai kumainkan.
Aku menangis disamping jasad Bunda. Aku tidak bisa menutupi kesedihanku. Namun tenang rasanya melihat Bunda yang tersenyum sebelum meninggal. Semoga laguku dapat mengantar kepergiannya menuju surga. Itulah doaku saat itu.
Kini aku hidup berkecukupan. Berkat prestasi-prestasiku dulu, aku mendapat beasiswa sekolah tinggi seni di Jerman. Semua kebutuhanku ditanggung pemerintah. Di Jerman pula aku dipertemukan dengan pendamping hidupku.
Ku rencanakan untuk pulang ke Indonesia satu minggu lagi. Aku ingin menjenguk rumah peninggalan Bunda yang telah kusumbangkan sebagai perpustakaan sekolah seni yang telah menjunjung namaku. Aku juga ingin menengok makam Bunda yang tak jauh dari sana. Aku akan memainkan biolaku di depan makan Bunda. Agar Bunda bahagia melihatku sekarang yang datang bersama menantu dan cucunya.
*****
Sumber : www.bangfad.com
Namun tidak bagiku. Aku benci musik, apa lagi musik klasik, yang terpaksa kudengarkan setiap Sabtu sore. Uh……….menjenuhkan!
“Eva…segeralah bersiap-siap, jam empat nanti kamu sekolah musik bukan?” Tegur Bunda dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Iya Bunda….sebentar lagi aku berangkat!” Teriakku dari dalam kamar.
Yap, aku terpaksa menuruti kehendak Bunda agar aku belajar bermain biola di gedung menjengkelkan itu. Aku tau Bunda akan sangat kecewa padaku bila aku menolaknya. Aku masih cukup punya hati untuk itu. Bunda begitu teropsesi pada biola. Aku tak heran mengapa. Dulu bunda sangat menyukai biola. Bahkan, beliau sering pergi ke luar Negeri untuk mengikuti konser ataupun lomba memainkan biola. Namun impian Bunda pupus seketika karena harus kehilangan sebelah tangannya karena sebuah kecelakaan. Jadi Bunda melampiaskan semua impiannya padaku..
“Eva…….cepatlah nak, jangan sampai kau terlambat. Ini, biolamu sudah Bunda siapkan”
Aku tersadar dari lamunanku. Jarum jam menunjukkan pukul 15.50. Akupun berpamitan pada Bunda, dan melesat bersama sepeda kesayanganku.
Takdir mengantarku menjadi anak tunggal yang yatim membuat Bunda menaruh harapan besar padaku. Aku tak ingin menanggalkan keinginan Bunda, tapi ini bukan duniaku. Bagaimanapun aku harus mengatakan hal ini pada Bunda suatu saat nanti.
******
Siang itu, ketika aku baru pulang setelah bermain bola basket bersama teman-teman priaku, kudapati keadaan rumah begitu sepi. Lebih sepi dari biasanya.
“Dimana Bunda?” pikirku dalam hati.
Kutengok dapur, Bunda tak disana. Begitu juga di ruang baca, bekas ruang kerja ayah dulu. Bunda tak terlihat disana.
“ Bunda……Bunda……Eva pulang” teriakku. Namun tak ada jawaban.
Namun akhirnya kutemukan Bunda terbaring lemas diatas ranjangnya. Wajahnya pucat, dan tampaknya ia kesakitan. Aku duduk ditepi tempat tidur, dan bicara pada Bunda
“Bunda, Bunda kenapa? Apa Bunda sakit? Ayo Bun, Eva antar ke dokter”
“Bunda tidak apa-apa sayang, hanya sakit kepala biasa. Istirahat sebentar juga pasti sembuh, Bunda sudah biasa begini” kata Bunda tersenyum tipis.
Aku mengelus lembut kening Bunda. Ku sibakkan anak-anak rambut yang menjuntai di kening orang yang paling kusayang ini. Aku tak akan memaksanya. Karena aku tau betul sifat Bunda yang tidak suka dipaksa.
“Eva…”
“Iya Bunda”
“Belajarlah memainkan biola dengan sungguh-sungguh ya nak, jangan kecewakan Bunda”
Aku hanya tersenyum, tak berani mengiyakannya.
“Bunda sudah tua ya, kamupun sudah dewasa. Bunda ingin sekali melihat Eva sukses sebelum Bunda berpulang” kata Bunda lembut
“Bunda, jangan bicara yang tidak-tidak, Eva sayang Bunda”
“Bunda juga sayang sekali sama Eva…” jawab Bunda
Kata-kata Bunda barusan membuatku tersentak. Bagaimana aku bisa berprestasi bila aku tak bisa memainkan satu lagupun yang telah diajarkan? Akankah nanti Bunda kecewa padaku disaat-saat terakhirnya? Aku jadi merasa bersalah pada Bunda.
Di sampingku Bunda telah terlelap. Kupandangi wajahnya yang penuh kasih sayang. Garis-garis samar yang tertera di wajahnya menandakan kelelahan di usia tuanya. Rambutnyapun telah memutih. Semakin sayang aku pada Bunda.
Aku membelai pelan pipinya. Namun tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang kurang.
“Ya Allah, Bunda! Bangun Bunda!” teriakku panik
Aku baru menyadari, nafas Bunda tersendat-sendat. Segera aku mencari pertolongan dari para tetanggaku. Aku menangis dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku khawatir pada Bunda. Aku terus berdoa agar Bunda diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Di rumah sakit, Dokter dan suster lalu lalang di depanku. Aku terus menerus berdoa. Aku tak bisa membendung airmataku. Semuanya terjadi begitu cepat.
Setelah lama menunggu, seorang Dokter menemuiku dan membawakan sebuah kabar
“Ibu anda berhasil kami selamatkan. Namun ada satu hal yang harus anda ketahui”
“Apa itu Dok?”
“Ibu anda menderita kanker otak stadium empat. Dan kami prediksikan, sisa hidupnya tinggal satu tahun lagi”
Aku tersentak mendengarnya. Benar-benar terpukul. Bunda yang begitu kusayang akan pergi dariku selamanya. Aku, seorang Eva yang orang-orang nilai tomboy ini menangis sehari penuh karena masalah ini. Entah apa yang akan kulakukan sepeninggalan Bunda nantinya.
*****
Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk membahagiakan Bunda. Aku tidak memberi tahu Bunda tentang sisa umurnya yang tak lama lagi. Namun agaknya Bunda sudah mempunyai firasat.
Sabtu sore yang biasanya kulalui dengan tak bersemangat, kini berubah. Ku coba untuk lebih serius belajar biola. Memahami lagunya, dan belajar menyukainya. Selain itu aku juga mencoba untuk mengikuti seleksi dalam pemilihan pemain konser atau pemilihan wakil sekolah dalam sebuah lomba. Masih terngiang di telingaku, kata-kata Bunda yang menginginkan aku sukses. Khususnya sukses sebagai pemain biola.
Beberapa bulan kemudian, aku berhasil mewujudkan impian Bunda. Aku berhasil menjuarai sebuah kontes musik klasik Nasional bersama biolaku. Bangga rasanya. Terlebih Bunda, aku dapat melihat kebahagiaan yang mendalam dalam airmatanya ketika aku pulang sebagai juara.
Kemenanganku ini pula yang mengantarku pergi keluar Negeri untuk bertanding di kancah dunia. Sungguh, baru kali ini aku merasakan senangnya mewujudkan impian Orangtua.
Tidak begitu lama setelah kepulanganku ke Tanah Air dengan gelar juara, keadaan Bunda semakin melemah. Bunda seakan sudah tidak kuat lagi menahan deritanya itu. Aku hanya bisa menemaninya di sisa-sisa waktunya.
“Eva…terimakasih sayang, kamu telah menjadi seperti apa yang Bunda harap. Bunda bangga sekali padamu” Bunda berkata lirih
Aku tersenyum. Kuraih tangan kanan Bunda yang masih berfungsi, dan ku dekap penuh kasih.
“Bila nanti Bunda tiada, janganlah kamu jadi anak pemurung. Hidupmu masih akan terus berjalan. Hidupilah dirimu sendiri, Eva. Eva anak yang mandiri, bukan?”
Aku mengangguk pelan. Miris rasanya mendengar suara Bunda yang bergetar.
“Hanya satu pesan Bunda. Jangan berhenti bermain biola, Eva”
“Iya Bunda, Eva janji. Tidak akan mengecewakan Bunda. Eva akan terus bermain biola” jawabku dengan suara serak, menahan airmata.
“Bunda percaya sama Eva…bolehkah Bunda mendengarkan sebuah lagu dari biolamu, nak? Sebagai lagu pertama dan terakhir yang Bunda dengar darimu.”
Aku mengangguk, lalu beranjak mengambil biolaku. Lantas, aku berdiri di dekat ranjang Bunda. Ku mainkan sebuah lagu kesayangan Bunda. Aku memainkan biolaku dengan penuh perasaan. Perasaan kasihku terhadap Bunda.
Bunda meneteskan airmata ketika mendengar permainanku. Beliau tersenyum manis, sebelum akhirnya menutup matanya saat lagu itu belum selesai kumainkan.
Aku menangis disamping jasad Bunda. Aku tidak bisa menutupi kesedihanku. Namun tenang rasanya melihat Bunda yang tersenyum sebelum meninggal. Semoga laguku dapat mengantar kepergiannya menuju surga. Itulah doaku saat itu.
Kini aku hidup berkecukupan. Berkat prestasi-prestasiku dulu, aku mendapat beasiswa sekolah tinggi seni di Jerman. Semua kebutuhanku ditanggung pemerintah. Di Jerman pula aku dipertemukan dengan pendamping hidupku.
Ku rencanakan untuk pulang ke Indonesia satu minggu lagi. Aku ingin menjenguk rumah peninggalan Bunda yang telah kusumbangkan sebagai perpustakaan sekolah seni yang telah menjunjung namaku. Aku juga ingin menengok makam Bunda yang tak jauh dari sana. Aku akan memainkan biolaku di depan makan Bunda. Agar Bunda bahagia melihatku sekarang yang datang bersama menantu dan cucunya.
*****
Sumber : www.bangfad.com
Langganan:
Postingan (Atom)